The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

AKU

November 21st 2009 in a short story

Aku tahu aku mempunyai masalah dengan ingatan. Aku bisa saja segera lupa apa yang baru saja aku lakukan atau alami. Kadang aku bertemu dengan orang di jalan dan mengobrol dengan mereka untuk beberapa lama tanpa tahu pasti apa hubungan mereka denganku.
Aku tahu masalahku sangat serius dan aku tahu aku perlu pengobatan medis. Aku sekarang mencoba mengingat-ingat dengan keras beberapa kenangan hidupku. Aku memerlukan itu untuk menceritakannya kepada ahli jiwa yang aku rasa perlu aku temui secepatnya.
Aku ingat berdiri memandangi cermin besar di sebuah rumah yang megah. Rumah itu seindah diriku. Kokoh dan memberikan rasa aman. Siapapun yang datang akan merasa dilindungi—pria maupun wanita. Aku mempunyai hal-hal yang bisa aku banggakan. Kulitku putih, wajahku selalu tampak tampan walaupun rambutku sedang acak-acakan seperti waktu itu. Rambutku lurus dengan sebagian depannya jatuh alami menutupi sebagian dahiku. Ujungnya seolah-olah mengenalkan kepada yang semua yang melihatku ke mataku yang tajam. Mataku bisa membuat orang lain merasa telanjang. Itulah salah satu pujian yang aku dapat. Hidungku pas sekali dengan bibirku yang berwarna merah muda dan tipis. Bahuku jantan dengan bulu-bulu tipis disekitarnya. Badanku tegap… tiba-tiba saja aku merasa pusing. Aku tidak tahu kenapa, tapi pusing itu sangat berat dan akhirnya aku terjatuh…pingsan.
Ketika aku terbangun dari pingsanku, aku sungguh terkejut karena aku sedang berada di kasur yang sangat empuk. Di sekitarku banyak sekali uang yang tercecer. Aku sangat bingung. Bukannya terakhir kali aku sadar aku sedang memperhatikan diriku sendiri? Tapi kenapa sekarang aku terlentang di kasur yang penuh uang?
Aku mencoba untuk bangun dan turun dari kasur. Kakiku terantuk sebuah koper yang ada labelnya namun sudah robek. Sekilas aku melihat tiga huruf kapita “RON”. Pastilah itu uang jatah Roni dari bank yang kita rampok. Roni tidak membutuhkan uang sebanyak itu. lagipula aku sangat tergila-gila dengan hasil rampokan semalam.
Semalam? Tapi bukankah semalam aku ada di depan cermin dan… Apa yang terjadi? Aku segera berlari dengan membawa pusingku untuk bercermin. Dan ketika aku hampir sampai dicermin, aku terantuk sebuah mobil-mobilan dan terpeleset jatuh.
Hitam. Benar-benar hitam. Mataku mengerjap-ngerjap dan menentang cahaya lampu terang yang berbalapan masuk. Kepalaku tambah pusing. Di ujung kakiku ada mainan mobil-mobilan yang membuatku terpeleset tadi.
“Sialan!!” Aku mengambil mainan itu dan melemparkannya jauh-jauh mengenai pintu. Aku mendengar langkah kaki yang cepat ke arahku. Bayangannya pun mulai muncul di lorong dan mengenai pintu yang terbuka tadi. Bayangan itu mendekat dan bisa kulihat dia memegang sesuatu yang seperti pisau terhunus. Siapa dia? Aku mencoba bergerak mundur ketakutan dengan cepat. Tetapi aku terlambat! Bayangan itu sudah dekat sekali. Lalu dia berhenti. Dia menunduk dan mengambil mainan itu. Dibawanya mainan itu menuju ke pintu masih dengan pisau yang terhunus. Kemudian bayangan itu semakin mendekat dan muncul di depan pintu. Yang aku lihat membuatku sangat terkejut!
“Mama?”
“Apa?!!!” Aku segera menundukkan kepala dan melihat dua payudara menempel di dadaku.
“Ada apa ini?!!!”
“Mama? Mama nggak papa?” Anak kecil sepuluh tahunan itu mempertanyakan hal yang sangat membuatku pusing. Tidak, aku tidak boleh pingsan lagi! Aku harus tahu apa yang terjadi padaku!
“Rino, mama kamu ada disitu?” Aku mendengar suara laki-laki dari jauh. Langkah kakinya terdengar menaiki tangga menuju ke kamar.
Anak kecil yang dipanggil Rino menoleh ke arah siapapun itu dengan muka marah yang bisa ku lihat dari samping.
“Nggak ada. Pergi, Om! Pergiiiiiiii!!!!!!!!!” Rino berteriak dan berlari menghampiri laki-laki yang dia panggil Om itu. Rino terus berteriak dan aku mendengar suara pukulan-pukulan kecil Rino ke laki-laki itu yang tertawa jahat. Ada apa ini?
“Hahahaha. Anak kecil haram yang sok jagoan ya, kamu!” Kalimat hinaan itu keluar dari si laki-laki.
Anak haram? Apa maksudnya?
“Sana kamu!” Aku mendengar Rino berteriak dan suara bergelundungan di tangga. Rino jatuh. Kenapa aku hanya terduduk diam disini? Apa yang harus aku lakukan? Aku mencoba berdiri dan menghampiri pintu. Ketika sampai di pintu, tanganku tiba-tiba digenggam oleh tangan yang besar dan berbulu lebat.
“Hey, baby.”
“Mario?”
“Yup. I miss you.”
Mario mendorongku masuk dan aku tidak tahu kenapa aku pasrah saja. Aku merasakan kekuatan dari diriku untuk hal lainnya. Kekuatan yang aku miliki saat itu adalah kekuatan untuk menyerah ke pelukan perkasa Mario. Buat apa aku melawan? Aku bahkan tidak ingin melawan! Mario menutup pintu kamar dan merebahkan diriku di ranjang. Aku tidak yakin benar apa yang aku alami malam itu. Yang aku ingat, aku tertidur pulas setelah…apapun itu.
Ketika aku bangun, kepalaku pusingnya berlipat-lipat. Aku terbangun di sebuah kamar yang sangat jorok. Aku yakin aku terbangun karena bau menyengat di sekitarku. Bau apa itu? aku mencoba mengangkat kepalaku tapi benar-benar terasa sangat berat. Namun kali ini aku merasakan bukan saja kepalaku yang berat. Tapi ada yang lainnya juga yang membuatku susah berdiri. Dan ketika aku mengetahui apa itu, aku berteriak sangat kencang dan segera berhenti karena terkejut dengan suara teriakanku sendiri. Aku terbangun sebagai seorang laki-laki gendut dengan suara serak!
Mataku menambah keterkejutanku. Di sekitarku aku melihat sisa pizza berserakan, baju kotor yang menumpuk di bawah ranjang dan bahkan ada yang aku duduki. Dan yang ada di bawah pantatku adalah yang paling bau. Ketika aku menariknya, aku segera menuntahkan banyak sekali isi perutku. Di bajuku itu ada bekas…
Dian dengan segera menutup laptopnya. Diangkatnya hape dan ditekannya beberapa nomor.
“Hey,..Dian, pa kabar?”
“Baik, mas. Lagi sibuk gak?”
“Nggak. Tau nggak lo gw lg apa?”
“Apa?”
“Nungguin draft short story lo buat edisi dua bulan kedepan. Jadi nulis soal tujuh dosa besar?”

-a short story I sent for the short movie festival-didn’t win, though:)-



required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Jakarta15 Juli 200920.00 WIBKediaman Dedi SuhendraAku benar-benar harus menyelamatkan dunia. Tetapi aku harus benar-benar yakin dulu tentang apa yang aku katakan ke Bapak Presiden lewat sambungan telepon pribadinya. Aku memutuskan untuk melihat lagi foto-foto ada di layar laptopku.Lekukannya jelas. Aku tidak mungkin salah. Apakah lekukan itu ada juga di foto kedua? Pertama kali aku melihatnya […]

Previous Entry

Gw jarang banget ke kolam renang hari minggu siang. Tapi waktu itu dunia sedikit sadis ma gw n gw escape ke kolam renang jam 11 siang. N apa yang terjadi? Banyaaaaaaaaaaaak banget anak2 smp gitu yang renang. Kayaknya mereka satu sekolah. Berhubung penuh banget kolamnya, gw ngerasa g bebas renang bolak2. Akhirnya gw mutusin duduk aj […]

Next Entry