The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!
Now viewing all posts in a short story

Semalam di Rumah Sakit (Part 2)

August 5th 2011

Click here for part 1   Tapi sayang hanya sebatas itulah yang Jimmy bisa lihat karena jangkauan matanya terhenti di gorden yang menyembunyikan wajah si gadis. Paling tidak dia tahu kalau dia tidak sendiri dan dia bukanlah yang lebih parah dari si gadis. Walaupun dia tidak tahu apa yang salah dengan gadis itu sampai dia […]

Read On 1 Comment

Semalam di rumah sakit

August 4th 2011

Jimmy sedang berada di dalam taksi. Pikiranya sudah tidak ada ditempat dimana dia duduk. Semuanya sudah menguap menjadi keringat yang mengucur deras di tubuhnya yang terbalut sweater merah tebal. Mungkinkah keringat itu menetes di tas ransel yang dia pangku? “Wah, saya salah jalan ni.” “Muter aj deh, Pak. Yang penting cepet. Saya sudah nggak tahan.” […]

Read On 4 Comments

Tidak Terima–Part 4 (end)

May 2nd 2011

Aku menjatuhkan perisai dan pedangku. Perisauku jatuh terbuka dan pedangku jatuh ketanah tak tertancap. Mereka tampak bingung. Mereka mulai saling menatap seolah meminta persetujuan masing-masing untuk melawanku dengan tangan kosong. Dan memang itulah tujuanku. Aku berusaha untuk lebih meyakinkan mereka untuk melawanku satu-persatu dengan cara berdiri sedikit menyamping, merapatkan jari-jari tanganku, jari tangan kanan di […]

Read On 4 Comments

Tidak Terima–Part 3

April 27th 2011

Dan aku memandang ke atas melihat perisaiku yang sudah ditarik bumi. Ketika para prajurit itu berlari kearahku, aku meloncat tinggi meraih perisaiku tepat di genggaman. Dan ketika kakiku menyentuh tanah, jari tangan kananku menyentuh satu kunci di perisauku yang membuatnya megeluarkan batang-batang besi tajam yang langsung tenggelam di beberapa mata dan kepala prajurit yang dekat […]

Read On 2 Comments

Tidak Terima–Part 2

April 26th 2011

Aku menatap sekelilingku. Ada duapuluh orang melingkariku dan ada tiga lapis lingkaran. Bagus! Dan aku mengharapkan untuk bisa keluar dari lingkaran ini? Tidak! Aku tidak bermaksud barang sebentarpun untuk keluar dari lingkaran ini. Aku berada di tempat yang seharusnya. Ini adalah tempat yang sangat tepat untuk menghancurkan lingkaran-lingkaran setan ini…dari dalam! Bibirnya sudahbersih dari air. […]

Read On 2 Comments

Tidak terima–Part 1

April 24th 2011

Aku berdiri tepat di tengah lingkaran musuh. Mereka semua mengacungkan pedang ke diriku yang terlindung kain putih berbercak merah darah sehingga orang bisa mengatakan hal yang sebaliknya. Aku berusaha keras untuk berpikir tentang apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Aku sudah melawan mereka untuk seberapa lama waktu namun di pikiranku hanya ada satu bayangan: Wajahku […]

Read On 2 Comments

Bicara

March 15th 2011

Santi melempar gelas ke lantai lagi. Dan serpihan-serpihan gelas itu kemana-mana. Ada beberapa yang kecil jatuh ke sofa, bahkan ke lipatannya. Ketika aku mendekat ke sofa untuk membersihkannya, Santi marah-marah membabi buta melarangku. “Biarin saja semuanya disana! Biar mati orang yang duduk disana! Biar tambah parah masalah kita!” Aku takut sekali kalau Rama yang masih […]

Read On 4 Comments

What’s over love

February 28th 2011

My two palms were going to the bottom of my front shirt. She was staring at me. I still could actually see her eyeballs…wet. They were doubtfully desperate about what had been happening. She said she had been convincing herself that things were whatever although she didn’t want to ever lose her dream of walking […]

Read On 2 Comments

Filsafat

January 18th 2011

Dosen filsafatku memasuki ruangan dengan sangat percaya diri. Dia memakai sepatu hitam mengkilatnya, celana yang berwarna senada, ikat pinggang yang siapapun juga akan segera tahu kalau harganya mahal, kemeja oranye yang membuka mata mahasiswa dan mahasiswi, dasi kuning lembut yang membuka mata mahasiswa dna wajah tampan kharismatik yang membuka mata mahasiswi. “Selamat sore.” Ucapan salam […]

Read On 5 Comments

Cara

January 15th 2011

“Sorry uda lama nggak nge-respon.” Dia hanya mengangguk. Kupikir dia hanya mengangguk, tapi rupanya dia menambahkan satu kalimat…atau lebih. “Jujur lebih seneng seperti ini. Kalau kamu langsung ngejawab, ya…seneng juga, sih. Tapi kan nggak ada seninya. Jadi ya deg-deg-an and ngerasa yang lain-lain deh. Tapi lebih suka begini kok.” Aku tersenyum sedikit. “Mmm,..kalau memang lebih […]

Read On 7 Comments