The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

ANTARA–part III (end)

July 6th 2010 in DARK JOURNALS--the series
“Silahkan duduk.” Kata si nenek.
Aku duduk bersila  setelah melepaskan sepatuku. Dadaku tiba-tiba berdetak kencang.
“Ini Jana. Ini nak Alek. Dia ingin berbicara dengan mantan pacarnya.” Nenek itu menjelaskan apa yang terjadi.
“Apakah saya akan ditinggal berdua dengan Jana?”
“TIDAK!” Nenek itu berkata cepat dan menoleh ke arahku.
“Tapi, saya ingin pembicaraan pribadi karena…”’
“TIDAK!”
“Nenek harus ada disini untuk menjaga Jana ketika dia dirasuki dan ketika dia ditinggal.”
Aku rasa apa yang dia katakana ada hubungannya dengan alasan aku kesini. Wawan memberitahuku kalau ada kasus seorang laki-laki datang kemari untuk berbicara dengan kekasihnya yang sudah meninggal. Dia membayar banyak ke nenek Jana untuk meninggalkan mereka berdua. Lalu ketika Jana dirasuki oleh arwahpacarnya yang sudah meninggal, laki-laki itu mengajak Jana secara fisik dan pacarnya secara psikis untuk berhubungan badan. Dan setelah itu menurut kabar dari orang-orang disini, Jana menjadi pemberontak neneknya. Dan dia juga menjadi tambah aneh. Dan lalu aku berpikir ke keadaan sekarang.
Tiba-tiba saja aku merasa terancam dan merasa harus menyelamatkan diri. Aku bermaksud untuk berdiri dan menuju ke kamar mandi tetapi tanganku ditarik oleh Jana!!!
Genggamannya kuat. Wajahku yang panik aku alihkan ke arah tangannya dan bisa kulihat urat-urat punggung tangannya yang berwarna ungu menegang. Tangankupun sakit. Namun aku tidak berusaha untuk menariknya karena stengah diriku penasaran dengan apa yang akan terjadi. Paling tidak aku tahu aku mendapatkan bahan untuk tulisanku…kalau aku keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup!!!
“Langsung wae, Jana.” Aku menoleh ke arah nenek di sebelah kananku yang mengatakan sesuatu dalam bahasa Jawa. Langsung? Langsung apanya?
“Mm,..bukannya saya perlu memberi tahu dulu siapa mantan pacar saya?” Tanyaku ke si nenek. Dia tersenyum sinis.
“Jana sudah tahu.”
“Tapi…”
“Sudah! Diam saja! Jana sudah tahu!” Suaranya meninggi dan saat itu aku mulai benar-benar khawatir!
Aku seperti orang bodoh dan aku juga merasa menjadi kolumnis paling bodoh sedunia yang menaruh resiko ke nyawaku sendiri tanpa pertimbangan jauh. Aku memandang Jana dengan ketakutan yang amat sangat. Aku penulis kolom misteri tetapi aku menjadi sangat penakut saat itu. Aku tidak percaya akan semua ini.
Aku memutuskan untuk menundukkan kepala. Apakah ini saat yang tepat untuk kembali percaya Tuhan?
Tanganku terangkat. Bukan untuk memohon pertolongan Tuhan, tetapi karena ditarik Jana yang bisa langsung berdiri dari posisi bersila. Rok hitam panjangnya tergerai menutupi kakinya. Terlihat olehku kuku jari kakinya yang hitam. Dan pandanganku naik ke atas sampai ke lehernya dengan kalung silver yang karatan. Dan lalu kalung itu maju karena dadanya membusung disertai suara tulang patah. Kepalanya terbawa kebelakang dan rambutnya tersentak. Apakah dia akan terbang? Dan memuntahkan cairan hijau? Aku hanya terbayang kengerian di film THE EXORCIST. Tapi tidak ada apa-apa terjadi. Aku menoleh ke arah di sebelah kanan untuk melihat si nenek. Dia tetap duduk bersila menata pahit apa yang sedang terjadi waktu itu. Aku menoleh ke arah Jana dan dihadapkan dengan wajahnya dalam jarak lima centimeter!!!
Aku terhenyak! Aku mundur dan mencoba menarik tanganku. Aku gagal. Kuat sekali genggaman tangan Jana. Ini mustahil!!! Arwah siapa yang merasuki Jana? Manatan pacarku masih hidup di Jakarta!!! Aku sudah berbohong kemereka untuk mendapatkan berita ini. Mantan pacarku masih hidup dan meninggalkanku bersenang-senang denagn cukong tua Mangga Dua. “NICE!!!” dan bagaimana dengan aku? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang harus aku katakan? Aku terperangkap dalam situasi yang mengancam hidupku. Kalau aku mengatakan hal yang sebenarnya, pastilah nenek Jana akan marah dan mungkinkah aku akan menyaksikan seberapa jahat nenek ini?
“Mas,…”
Seluruh bulu-buku di badanku bergidik mendengar Jana memanggilku. Matanya sangat bernafsu! Aku takut! Aku sangat takut! Lalu mimik mukanya berubah. Ada apa ini? Kenapa dengan pelan-pelan ujung alisnya bertemu, matanya menyipit dan bibirnya tergigit?”
“Maaf.” Kata Jana.
“Maaf, mas. Aku salah. Aku merasa rendah meninggalkanmu demi uang.”
“Apa? Aku..ak..” AKu tidak tahu apa yang harus aku katakana. Genggaman tangan Jana melemah dn kemudian terlepas. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang terisak pelan kemudian keras. Dan badannya lemas. Kepalanya condong ke arahku dan jatuh mendarat ke pundak kiriku.
“Aku tersiksa, Mas. Aku tidak tahan dengan laki-laki itu. Dia sakit.”
Jana terisak dan aku tidak tahu harus bagaimana. Kepalanya semakin dekat dengan leherku dan bisa aku rasakan basah air matanya di kulit leherku. Aku juga merasakan hidungnya naik ke telingaku dan lalu bibirnya.
“Aku tahu mas berbohong. Aku akan menggigit telingan kiri mas sedikit dan aku ingin mas lari secepatnya keluar dari tempat dan jangan kembali lagi karena nenek berbahaya!”
Aku belum bisa mencerna apa yang Jana bisikkan ke telingaku ketika aku merasakan sakit luar biasa di telinga kiriku.
“Aaaaaaaaaaaaaaarrgggggghh!!!” Aku berteriak dan segera mundur untuk menuju ke pintu. Aku sempat melihat Jana terjatuh atau lebih tepatnya menjatuhkan diri ke lantai. Aku panik. Aku ingat apa yang dia bisikkan ke tingaku dan aku akan melakukannya. Ketika aku berbalik badan, aku liaht nenek Jana berdiri dengan wajah seram dan mata tajam jahat!
“Sudah selesai, nak?” Tanyanya dengan suara datar. Tiba-tiba saja aku mendengar suara keras terbentur ke dinding. Aku dan si nenek melihat ke arah Jana yang mengahantamkan dirinya ke tembok.
“Janaaaaaaaa,…wong wadon goblok!!!!!” Neneknya berteriak sambil setengah berlari untuk menghentikan apa yang dilakukan Jana terhadap dirinya.
“Goblok! Goblok! Nek kowe loro ora iso kerjo! Meh mangan opo kowe?” Nenek Jana mengatakan kalimat-kalimat itu sambil memukuli Jana habis-habisa dan menariknya ke tengah ruangan untuk menghadapi aku yang segera tidak ada disana setelah menjebol pintu dari anyaman jerami itu.
Dan ditengah sawah pun aku serasa masih bisa mendengarkan teriakan wanita. Entah itu Jana atau neneknya. Dengan terengah-engah aku sampai di tempat mobil sewaanku parkir. Aku membangunkan si driver dan memaksanya ngebut sampai ke kota.

–Je–

No Comments to...
“ANTARA–part III (end)”
Avatar
Re_Notxa

Dan…Nenek itu membaca bagian akhirnya.


Avatar
Daffodil

hansel and gretelnya bentar lagi nongol. :-P*akhirnya tamat jugaaaa*a


Avatar
Je

re: THE END??? LOLDaff:g nyangka ditunggui. beneeeeeeeeeer.




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Nenek itu masuk ke dalam rumah dan beberapa saat keluar ke ruang tamu membawa secangkir kopi. Aku sempat berpikir bahwa mungkin hampir semua tamu yang datang meminta kopi dan oleh karena itulah dia juga menghidangkan kopi untukku. Tapi aku juga sempat menduga-duga bahwa sebenarnya Jana yang sedang ada di dalam rumah sudah tahu apa seleraku […]

Previous Entry

Gileeeeee deh,…Gw baru kali ini ngalamin tugas yang kayak gini. Emang si selama ini gw sering bilang ke orang2 kalo departemen gw ni kayak Emergency Room (ER) nya Rumah Sakit. Kita yang kerja disana harus selalu siap sedia membela negara yang bisa ganti-ganti situasi kapan aja. Ini nih tugas gw ke Semarang juga kayak gitu.Adalah […]

Next Entry