The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

ANTARA–part I

July 4th 2010 in DARK JOURNALS--the series

Writer’s note: ANTARA adalah bagian dari cerita DARK JOURNALS–the series.



Perjalanan kali ini benar-benar melelahkanku. Aku harus menempuh perjalanan pesawat ke Jogja dan setelah itu ada orang suruhan Wawan—polisi buncit informanku—yang aku bayar untuk mengantarkanku jauh berjam-jam lamanya ke peadalaman daerah Sleman. (Aku yakin dia mengambil untung banyak dari bayaranku kepada driver yang sedang menyetir di depanku saat itu.
Terkahir kali aku ke Sleman, aku dihadapkan pada kasus seorang Dalang kerasukan yang dalam  kalimatnya sangat jujur , atau harus kukatakan vulgar. Dan sekarang aku menghadapi berita yang lain. Berita kali ini sama mistinya namun dalam hal yang berbeda. Kalo si Dalang kerasukan, korbanku yang satu ini malah MEMINTA untuk dirasuki.
Aku mendapat sebuah nama dari Wawan. Dia menceritakan tentang “Jana”, seorang gadis yang menginjak remaja. Usianya 12 tahun. Dan dia adalah perantara manusia di alam ini dengan alam lainnya.
Setelah beberapa kali tidur ayam, si driver membangunkanku di tengah-tengah sawah. Kepalaku yang sangat pening harus mencuri waktu untuk mencerna dimana aku berada waktu itu. Hawanya masih bersih, namun sangat panas. Aku turun dan menghabiskan botol air mineral yang aku beli beberapa jam yang lalu di kota. Setelah aku menjadi segar sedikit, si driver menghampiriku dan menunjuk ke suatu arah.
“DIsitu rumahnya. Saya tunggu sampai jam berapa?”
“Saya butuh penerjemah bahasa Jawa. Bisa bantu, kan?”
Dia menggeleng takut.
“Kenapa?”
“Saya takut.” Akunya dengan logat medok Jawa.
“Kan si Jana hanya seorang perantara. Dia tidak melakukan hal-hal yang jahat, kan?”
“Saya tidak takut dengan Jana. Neneknya!”
“Neneknya?”
“Saya tunggu di mobil ya, Pak.”
“Tapi,..perjanjiannya…” Dia tidak membiarkan aku menyelesaikan kalimatku. Dia langsung masuk mobil dan menguncinya. Belum pernah sebelumnya aku ditolak seperti ini.
Aku langsung menelpon Wawan dan bermaksud untuk memarahinya karena instruksiku waktu itu sudah sangat jelas. Aku ingin seorang supir dan penerjemah bahasa Jawa. Dan jelas-jelas dia menipuku. Aku segera berpikir tidak ada gunanya menelpon dia. Aku mengurungkan niatku dan memfokuskan diri untuk memburu berita.
Jadi saat itu aku sudah mengumpulkan beberapa informasi. Jana adalah seorang mediator yang terlalu dikontrol oleh neneknya. Yang aku tahu baru saja adalah bahwa neneknya menakutkan karena kegiatan jahatnya.
“Aaah,…aku tidak boleh terlalu percaya dengen berita tanpa fakta. Aku bukan kolumnis infotainment!” Pikirku dalam hati.
Aku mendekati rumah Jana melewati beberapa blok sawah. Dan akhirnya aku sudah berada tepat di depan rumah itu. Bangunan yang aku lihat sangatlah tradisional. Selain atap dari genteng, semuanya sangat tradisional dan serba kayu.
Aku mendekat ke pintu rumah itu dan mencoba mengetuknya. Ada suara yang mendahuluiku:
“Njih? Sekedap, njih.”’
Waduh!!! Bahasa Jawa!!!
Muncullah seorang nenek-nenek yang segera tersenyum ramah.
“Senyum yang menyembunyikan kejahatan? Rasanya tidak mungkin!” Pikirku.
“Oh, ada yang bisa saya bantu?”
Leganya aku mendengar adanya tanda-tanda peradaban dari penggunaan bahasa Indonesia itu.
“Nama saya Alex, Bu. Saya dari Jakarta.”
“Oh, iya, pak Alek. Silahkan masuk.”
Dan aku kembali dibawa kekebudayaan primitif masyarakat yang mengijinkan semua tamu walaupun yang belum dikenalnya untuk masuk. Kemudian aku berpikir bahwa ini karena perkerjaannya. Maksudku, pekerjaan cucunya.
“Silahkan duduk. Tunggu sebentar ya,Pak Alek.”
“Alex saja, Bu.”
“Iya, nak Alek.”
Nenek itu masuk ke dalam rumah dan beberapa saat keluar ke ruang tamu membawa secangkir kopi. Aku sempat berpikir bahwa mungkin hampir semua tamu yang datang meminta kopi dan oleh karena itulah dia juga menghidangkan kopi untukku. Tapi aku juga semapt menduga-duga bahwa sebenarnya Jana yang sedang ada di dalam rumah sudah tahu apa seleraku dan memberitahukannya kepada neneknya dan muncullah dia dengan secangkir kopi panas sesuai selereaku.  Aku memang tidak pernah menaruh gula kedalam kopiku. Kopiku pahit. Karena beberapa orang juga megatakan begitulah caraku berbicara.
“Silahkan diminum, nak Alek. “ Akupun mencicipi panasnya kopi pahit itu dan merasakan ada sesuatu disana yang membuatku tidak menurunkan cangkir kopi itu untuk meminumnya lagi.



required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

***Writer’s note: It’s in the HOW” adalah salah satu cerita dari DARK JOURNALS–the series“Kematian yang menarik adalah bagaimana peristiwa itu terjadi, bukan kapan, bukan dimana, bukan kenapa dan bukan siapa!”Aku memilih kalimat pembuka sebuah kelas menulis novel oleh seorang penulis terkenal yang pernah aku ikuti workshopnya. Aku memutuskan untuk menulis tentang salah satu sesi yang […]

Previous Entry

Nenek itu masuk ke dalam rumah dan beberapa saat keluar ke ruang tamu membawa secangkir kopi. Aku sempat berpikir bahwa mungkin hampir semua tamu yang datang meminta kopi dan oleh karena itulah dia juga menghidangkan kopi untukku. Tapi aku juga sempat menduga-duga bahwa sebenarnya Jana yang sedang ada di dalam rumah sudah tahu apa seleraku […]

Next Entry