The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

TERBALAS

March 16th 2010 in a short story
Perutku lapar sekali. Aku memutuskan untuk keluar kamar dan menuju ke tempat makan favoritku. Dan tempat itu penuh. Aku memutuskan untuk menghidupkan rokokku dulu sambil menunggu satu atau dua orang yang sedang makan. Dari luar aku perhatikan ada seekor kucing di bawah meja yang sedang mengeong-eong tanpa ada yang mempedulikannya. Dalam hati aku berniat untuk membagi makananku nanti.
Ketika rokokku selesai terbakar habis, semua orang di tempat makan itu keluar. Beberapa ada yang bersendawa sangat kencang. Aku iri. Aku tidak pernah bisa bersendawa. Aku dibesarkan dengan sopan santun yang ribet.
Masuk dan duduklah aku di bangku sebuah bangku panjang. Aku memesan nasi, sayur dan telur dadar. Dan makanlah aku. Kucing yang tadi aku lihat muncul dari bawah meja dan bermain-main dengan kakiku.
Aku teringat janjiku tadi kepada diriku sendiri. Aku memesan satu ikan kembung dari ibu si penjaga warung. Tapi tunggu,… Tiba-tiba saja aku teringat akan sesuatu..aku belum menarik uang dari ATM selama tiga hari. Apakah persediaan uangku masih ada?
“Ah,…inikan perbuatan baik. Lagian aku bisa hutang di warung ini.” Kataku dalam hati.
Aku memasang pose seorang intel. Mataku menatap si ibu penjaga warung sementara tanganku memotong separuh ikan tadi dan menjatuhkannya. Terdengarlah suara si kucing yang lahap menyikat separuh ikan itu. Aku menunduk ke bawah dan melihat bulu putih kucing kurus itu bergreak-gerak mengikuti gerakan kepalanya yang sibuk dengan si ikan setengah.
Aku melanjutkan makanku sampai habis walaupun menyisakan setengah bagian ikan yang tadi. Sekilas ibu penjaga warung melihat setengah ikanku dan lalu aku pura-pura bersibuk-sibuk dengan durinya. Aku berhenti untuk menyalakan rokokku agar makanku terasa lebih sedap. Setelah menyala, aku buru-buru mengambil ikan itu dan melihat kebawah untuk menjatuhkannya.
Dan aku sempat terkejut karena aku melihat kucing putih itu menatapku dengan dua bola mata berbeda warna–biru dan kuning. Saking terkejutnya aku melepas ikan itu yang langsung disambarnya pergi. Aku senang melakukan itu.
Setelah aku selesai makan, aku bermaksud membayarnya. Semuanya sepuluh ribu rupiah. Dan selembar uang itulah yang ada di dompetku. Lalu aku pulang mengambil jalan yang terdapat mesin ATMnya.
Di tengah jalan, aku menyalakan rokok lagi. Tapi kali ini susah karena angin yang berhembus lumayan kencang. Aku berhenti sebentar dan serius sekali berusaha untuk menyalakan api. Saking seriusnya, hamper tertutup semua bagian wajahku menghalangi angin yang mematikan apiku. Dan ditengah-tengah usahaku, ada bunyi klakson yang sangat kencang sekali dari sebuah truk di belakangku. Aku panik. Ketika aku membalikan badan, ada wanita yang menubruk aku ke samping jalan sampai aku terjatuh. Tetapi aku selamat dari truk itu. Dia pun juga. Hanya saja kerudungnya terbuka karena gesekan tabrakanku tadi. Dia membuang mukanya menghindariku. Saat aku panggil untuk mengembalikan kerudungnya dia menoleh ke arahku dan mengucapkan “Terimakasih.” Dan secepatnya pergi dari tempatku tadi.
Dan saat itulah aku hanya terdiam ternganga karena tatapan kedua matanya yang berbeda warna.
TERBALAS
–Je–

4 comments to...
“TERBALAS”
Avatar
Daffodil

simple.good sequence.consistent details.:-)love, love, love it.smua kata formal style except that 'sopan santun yang ribet'. elooooo banget. hihihi.


Avatar
Je

KAKAKAKAKAKAKAK.Makasiiiiiiii :)


Avatar
Re_Notxa

kok gak coba ke kamar ganti cowok y? *garuk-garuk jempol.


Avatar
free -coins -fifa -16 -no -survey

P+AMMApQ -inl+AMMApA-gget -nedan -finner -ni -l+AMMApA-nkar -till -de -10 -senaste -hundattackerna -som -skett -under -1 -veckas -tid – -(fler -attacker -har -skett -men -dessa -har -hamnat -i -media)




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Nah,…abis gw cek si blognya TIA sebelumnya,..gw nemu blog yang satu ini. Cerita2nya simpel banget tapi ada pesen moralnya sih. Dan semuanya soal hewan. Langsung aj ya di cek , ya :)BLOG FABEL

Previous Entry

“Sudah menentukan pilihan?”Aku terdiam.“Mata, tangan atau kaki?”Aku tetap terdiam.“Diammu tidak akan merubah tawaranku. Kau tahu itu. Kau benar-benar tahu itu.”“Kalau kamu harus memilih, mana yang akan kamu pilih?”“Dalam keadaan biasa, aku tidak akan menjawab pertanyaan itu. Tetapi aku menganggapmu spesial. Jadi aku akan menjawabnya. Kaki.”“Kenapa?”“Itu aku tidak tahu. Aku hanya asal menjawab saja.”“Kau menempatkanku […]

Next Entry