The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Mayat-mayat di Ladang

December 2nd 2009 in DARK JOURNALS--the series
“Ini kasus gede banget.” Wawan mengucapkan kalimat itu dengan sangat antusias. Siapa yang tidak antusias akan mendapatkan dua ratus ribu rupiah hanya dengan becerita. Yang tidak antusias dalam hal ini adalah aku. AKu harus membayar kopi starbuck untuknya dan menunggu dia menyelesaikan ceritanya.
Dia menghisap rokok starmild yang aku beri tadi waktu kita ketemu. Asapnya dia hembuskan begitu saja di mukaku. Aku mengangkat tangan dan berusaha menghilangkannya sebelum aku terpaksa menghisapnya. Aku juga merokok tetapi dengan gaya yang lebih sopan.
“Pada rame di kantor polisi. Ada tujuh mayat ditemukan di tengah lsawah di Ungaran. Gila gak tuh?”
“Nggak. Kecuali lo ceritanya komplet dan gak brenti-brenti.” Jawabku dingin.
Wawan tertawa yang selallu diakhiri dengan batuk menggebu-gebu. Seolah-oleh semua isi di tubuhnya akan keluar lewat batuk itu. Itu hal yang sangat menjijikkan. Aku berusaha memfokuskan diri ke apa yang dia ceritakan.
“Sabar,…sabar,… . Hehehe. Well, gini ceritanya. Ada anak gadis yang fotonya bohai banget kemana-mana. Kayak Sarah deh. Azhari maksud gw. Dia tinggal di Ungaran. Dean rumahnya itu ada sawah. Dia bangun pagi-pagi banget mau sholat subuh di masjid. Hare geneeee masih ada juga orang yang segitunya. Pas dia keluar rumah dia ngeliat kok bagian sawahnya bolong gitu. Gak semua seh. Gak kayak di film apa tuh…” Wawan tampak berusaha keras menemukan judul film itu yang tampaknya memang tidak ada di otaknya. Usahanya sia-sia dan memakan waktuku.
“The sign.”
“Naaaah,…itu. Serem kan itu film. Orang India ya yang bikin?”
“Kita lagi ngomongin orang Ungaran.”
“Hahahaha.” Dia tertawa berat dan langsung diam ketika melihat wajakhku yang tidak ada senyumnya sama sekali.
“Trus dia masuk rumah buat ambil senter. Kan gelap tuh katanya di daerah itu. Pas di uda ambil senter and liat lebih deket, dia bilang dia teriak and langsung manggil bapaknya. Si bapak kaget-kaget and ngebangunin si RT and langsung lah ada yang lapor polisi.”
“Mayatnya gimana?”
“Tujuh!” Wawan berhenti untuk menghisap rokoknya lagi. Gerakannya lamban. Yang lebih lama lagi adalah cara dia minum kopi. Diangkatnya gelas plastik itu, diciumnya sulu isinya baru dia minum. Setelah itu ada suara “aaaaah” yang lumayan panjang yang sekali lagi benar-benar membuang waktuku.
“Mereka semua menghadap ke arah timur. Posisinya pada di lutut mereka. Kayak mau ngelamar cewek aja, ya. Hahahahahaha.”
Aku hanya diam dan sibuk dengan catatanku. Itu semua karena aku bosan dengan kelakuan Wawan dan lupa membawa hapeku yang biasa aku gunakan untuk merekam percakapanku dengan dia.
“Ini yang aneh. Kepalanya menengadah ke atas dengan mulut ternganga, matanya terbelalak semua dan kedua tangan keatas kayak nahan apa gitu. Belum keluar berita resmi dari polisi. Rencananya besok. Soalnya kasusnya sensitive. Diduga sekte-sektean gitu lah.”
Aku pulang dan langsung menatap laptop hp mini ku. Yang aku dengar tadi dari Wawan bisa jadi merupakan kasus besar di Indonesia. Sekte? Kata itu sangat kuat. Bisa memecahkan persatuan. Walaupun di Ungaran memang banyak yang beragama Kristen, aku masih takut apabila kasus ini dihubung-hubungkan dengan agam yang popular di kota kecil itu. Aku yakin—walaupun aku tidak begitu beriman—bahwa agama manapun tidak ada yang mengajarkan hal seperti yang terjadi di Ungaran.
Mungkin memang ada aliran yang aneh yang melakukan ritual-ritual seperti itu. Dari informasi yang tidak jelas tadi aku berusaha menyimpulkan bahwa mereka semua sedang dalam sebuah upacara tertentu. Kenapa tujuh orang? Kenapa muncul dugaan sekte? Mungkin karena beberapa fakta yang ada di tempat kejadian. Tujuh orang ada disana. Bilangan ganjil memang selalu dihubung-hubungkan orang dengan kegiatan seperti ini. Pythagoras yang selalu mengagung-agungkan bilangan ganjil—terutama bilangan prima—selalu menganggap bilangan-bilangan itu merupakan bilangan yang penuh kekuatan. Tuhan agama Islam sendiri mempunyai 99 nama. Dan untuk lebih spesifiknya, bilangan tujuh sendiri bisa dianggap mewakili tujuh dosa besar yang dilakukan manusia.
Bagaimana dengan memandang ke arah timur? Arah matahari bukan? Benda langit yang satu ini sering dianggap yang paling berkekuatan bukan? Lihat saja Jepang. Ada satu hal yang lucu yang aku temui ketika aku mulai melakukan penelitian kecil-kecilan tentang agama dan matahri. Aku baru tahu kalau secara harfiah, nama yang ada di agama Islam—Samsudin—bisa diartikan agama matahari. Aku juga menemukan sejarah yang memang menyatakan ada agama matahari yang dulu dipimpin oleh seorang yang bernama Hypatia.
Tetapi aku meragukan bahwa fakta kejadian di Ungaran itu ada hubungannya dengan matahari. Mayat-mayat itu ditemukan ketika Subuh. Subuh terjadi sebelum matahari terbit kan? Atau jangan-jangan mereka memang sedang menunggu matahari terbit? Tetapi apa yang akan terjadi ketika matahari terbit? Apakah mereka akan mendapatkan keinginan mereka ketika matahari terbit? Dan apakah ada pihak yang tidak menginginkan hal itu terjadi dan membunuh mayat-mayat itu? Tapi bagaimana caranya mereka tetap pada posisi yang sama kalau memang terjadi pembunuhan oleh manusia? Bukannya pasti ada perlawanan? Dan juka mereka melawan, tentu saja mereka akan ditemukan dalam posisi yang berbeda kan? Apa mereka pasrah? Atau mereka tidak bisa melawan? Sihir apa yang melumpuhkan syaraf-syaraf mereka untuk melawan? Apa memang sihir?
Pertanyaan-pertanyaan itu kutulis di jurnalku. Aku belum akan megirimkannya ke editorku. Dataku tidak lengkap. Aku harus menunggu informasi selengkapnya dari Wawan lagi.
Aku menutup hp miniku dengan sebuah harapan. Semoga dugaan-dugaanku salah. Bukannya negeri ini sudah cukup parah? Aku berjalan menuju jendela. Kupandangi Jakarta sambil menyalakan rokokku.
-It’s the thinking that matters-
-Je-

No Comments to...
“Mayat-mayat di Ladang”
Avatar
Mike

cerbung yah?


Avatar
Je

cerbung lepas. liat tag nya deh mmike. kumpulan dark journals :)




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Pas gw g bisa tidur, browsing2lah gw ama MOBY gw. Dan dapetlah gw blog yang satu ini. Ini blog keren banget. Liat aj nama di bannernya: Emangnya apa si yang ada disitu? Yang jelas ada cerita kan? Tapi formatnya beda. Bukan tulisan kayak blog cerita biasanya. Bukan juga gambar kayak blog cerita biasanya. Pokoknya gak kayak […]

Previous Entry

“Isn’t everyone interesting?” I asked my alter ego that sixty million dolar question.”In a way,..yes.” He said. And then he added “However, oftentimes we do not have sufficient time to understand them. Inevitably we choose to understand people if they are of benefit for us.”But that is just so cruel!” I remarked.”The benefit theory works subconsciously. […]

Next Entry