The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Pembaca Awan

November 21st 2009 in a short story
Jakarta
15 Juli 2009
20.00 WIB
Kediaman Dedi Suhendra
Aku benar-benar harus menyelamatkan dunia. Tetapi aku harus benar-benar yakin dulu tentang apa yang aku katakan ke Bapak Presiden lewat sambungan telepon pribadinya. Aku memutuskan untuk melihat lagi foto-foto ada di layar laptopku.
Lekukannya jelas. Aku tidak mungkin salah. Apakah lekukan itu ada juga di foto kedua? Pertama kali aku melihatnya memang seperti itu. Tetapi sekali lagi aku harus yakin mengenai hal itu. Aku membesarkan ukuran foto itu lagi. Lekukan itu memang ada.
Masih di atas kursiku, aku mendorongnya ke belakang dan rodanya memutar sampai ke meja di belakangku. Aku mengambil tiga kaca bundar tipis dengan warna yang berbeda. Aku menyisipkan kaca yang berwarna merah ke celah tipis diantara kedua kaca di kacamata kananku. Lekukan di foto itu terlihat jelas. Walaupun sangat kecil, aku tahu lekukan itu ada. Aku mengganti kaca merah tipis itu dengan yang hijau. Lekukan itu tambah panjang. Ini adalah pertanda buruk. Aku tahu ini semua dari awal. Namun sekali lagi, aku harus mencoba melihat lekukan itu, kali ini dengan kaca warna kuning. Apakah warna kuning akan mempengaruhi spektrum cahaya yang dipancarkan sebuah obyek? Ternyata aku benar. Lekukannya tambah panjang. Sekali lagi aku berkata kepada diriku sendiri bahwa aku benar dan harus dengan segera menelpon Bapak Presiden untuk memberutahukan bahaya angin ribut dari Australia yang akan menyerang Indonesia.
Jakarta
15 Juli 2009
20.00 WIB
Kediaman Bapak Presiden
“Dia menelepon, Pak.”
“Langsung saja disambungkan. Saya terima.”
“Siap.”
Beberapa saat kemudian…
“Selamat malam, pak. Eh,..ini Bapak Presiden?”
“Iya. Ada apa menelpon malam-malam? Kebetulan saya sedang beristirahat.”
“Maaf, Pak. Maaf mengganggu istirahat Bapak. Saya akan sangat cepat. Mungkin cuma lima menit saja.”
“Silahkan.”
“Semuanya sudah saya lakukan, Pak. Saya sudah mengumpulkan semua data foto-foto awan di atas Jakarta selama dua bulan ini. Saya sudah menganalisa mereka dengan mempertimbangkan faktor suhu dan keadaan cuaca serta melakukan studi anomali kecepatan angin pada saat masing-masing awan itu muncul. Spektrum cahaya juga sudah saya pastikan akurat untuk melihat bentuk awan dari berbagai macam sudut pandang. Saya juga sudah menghabiskan waktu mencari-cari informasi di internet tentang keadaan astronomi di malam hari setelah semua bentuk awan itu muncul.
Kejadian ini berpola, Pak. Pola yang sama pernah dihadapi oleh Badan Meteorologi dan Geofisika di Australia. Mereka menganalisa pola itu setelah terjadinya Badai Katrina. Mereka terlambat. Kita belum! Saya yakin Bapak akan mengambil tindakan yang diperlukan. Orang-orang perlu diperingatkan, Pak. Eh,.. maksud saya. Eh,.. maaf saya lancang. Tentu saja Bapak lebih tahu apa yang harus dilakukan dari pada saya. Tugas saya hanya menyampaikan apa yang saya pelajari selama ini. Saya yakin saya tidak salah, Pak. Semua bukti yang saya kumpulkan akurat dan berani saya pertanggung jawabkan.”
“Baik. Terima kasih. Saya akan segera mengurus semuanya. Saya akan menghubungi anda dua minggu dari sekarang.”
“Dua minggu, Pak?”
“Iya. Ada apa?”
“Eh,…bukankah itu terlalu lama? Maksud saya…”
“Kata-kata anda tadi benar.”
“Begitu, Pak. Memang terlalu lama kan, Pak?”
“Bukan. Maksud saya kata-kata anda yang benar adalah kata-kata anda tadi yang anda gunakan ketika menjelaskan apa yang harus saya lakukan. Saya memang lebih tahu apa yan harus dilakukan dari pada anda. Saya punya kewajiban yang lebih besar. Dan anda sudah membantu saya sangat besar pula. Saya akan tetap mengabari anda dua minggu sari sekarang. Untuk saat ini, saya akan menelpon Angkatan Udara untuk menyiapkan helikopter guna mengevakuasi anda dan keluarga. Siap-siap saja sekarang. Helikopter tersebut akan datang paling tidak satu jam dari sekarang. Bawa semua data-data riset anda. Saya akan menyuruh ajudan saya untuk menjemput anda ke tempat helikopter akan membawa anda. Anda dan keluarga akan dibawa ke tempat yang aman. Percaya saya.”
“Eh,..tentu saja saya percaya.”
“Bagus. Selamat malam.”
“Eh,..tapi,Pak..”
Sambungan telepon terputus…
Jakarta
15 Juli 2009
20.00 WIB
Kediaman Dedi Suhendra
Terdengar suara pintu diketuk di rumah Dedi. Dia buru-buru menuju ke arah pintu dan menyibakkan tirainya. Ada tiga orang berjas hitam sangat rapi di rumahnya. Tampak di masing-masing telinga kanan mereka sebuah earphone kecil yang berkabel dan mengitari belakang kepala mereka.
Dedi tergopoh-gopoh membuka kunci pintu dan gerbang rumahnya. Ketika sudah dekat dengan ketiga laki-laki berjas hitam itu, Dedi segera menyapa mereka.
“Selamat malam, Bapak-Bapak. Kalo tidak salah Bapak..”
“Ajudan Presiden.” Salah satu laki-laki tersebut memotong perkataan Dedi sambil menunjukkan tanda pengenal yang terdapat logo Burung Garuda.
“Kami diperintahkan untuk menjemput anda dan membawa anda serta keluarga ke tempat penjemputan helikopter. Kami yakin anda dan keluarga sudah siap. Kami tunggu di mobil dalam waktu lima menit.” Setelah mengatakan semua itu, ketiga laki-laki tersebut kembali ke mobil mereka.
Walaupun bingung, Dedi menuruti perintah yang baru saja didengarnya. Dia segera masuk rumah dan menyuruh istri dan anak laki-lakinya yang sudah siap dari tadi untuk segera menuju mobil.
Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Yang Dedi tahu, sekarang dia sudah ada di mobil Suzuki APV bersama istri, anaknya dan tiga ajudan Presiden.
“Demi keamanan, kami akan membius anda semua. Hanya bius tidur. Semuanya akan terbangun di tempat aman nantinya.” Ajudan yang terdekat dengannya mengatakan hal itu kepada Dedi dan keluarganya.
“Tetapi saya ingin…”
“Perintah Presiden!” Potongnya cepat. Dedi dan keluarganya hanya bisa menurut.
“Anda yang pertama. Maafkan.” Kata ajudan yang pertama sambil mendekatkan sapu tangan putih yang berbau menyengat ke hidung Dedi. Dedi bisa melihat telapak tangan laki-laki itu bertato jaring laba-laba. Dia merasa ada yang salah namun kemudian hari semakin gelap.
Sidney
7 Juli 2007
10.00 Waktu Sidney
Universitas Sidney
“Berapa yang harus gua habiskan untuk alat itu?” Tanya Rino.
“Ya sama-sama dari Indonesia gua kasi diskon deh. Cuma sertus ribu dolar Aussie.” Jawab Dika dari sambungan telepon.
“Gila ya! Mahal tauk!”
“Hey! Itu uda diskon. Kalo kita ngejual ke perusahaan laen bisa nyampe dua kali lipatnya. Ini aja gua uda nanggung resiko gede banget ngejual barang itu ke elo. For realationship sake, deh. Buat kenangan-kenangan kita pacaran.”
“Hahahaha. Bisa nyicil gak?”
“Lo mau lulus kuliah masih aja nyicil, ya. Dasar orang Indonesia! Hahahaha. Ok deh.”
Jakarta
15 Juli 2009
23.00 WIB
Ruko sewaan di dekat Cibubur Junction
“Lo uda kasi duit kan ke is ibu-ibu dan anak muda itu?” Tanya Budi.
“Udah. Seratus ribu masing-masing. Mestinya mereka uda pulang ke Jakarta. Haus gua.” Hari mengambil segelas air dan menuju ke dispenser. Tangannya mengarahkan gelas di bawah dispenser. Air pun mengucur. Matanya sejenak melihat tubuh Dedi yang lunglai di pojok ruangan. Dia tidak sadar ketika air di gelas sudah penuh dan menetesi tato jaring laba-laba di telapak tangannya.
Sidney
21 April 2010
Sidney University
“Uda siap, sayang?” Lisa membetulkan posisi dasi Agus yang sebenarnya tidak perlu dibetulkan.
“Sudah. Wish me luck.”
“You don’t need that. I am sure your hardwork will take you to be the best graduate of this university. I will be waiting here, okay?”
“You don’t have to.”
“I know. I WANT to. Go!”
Agus mencium kening Lisa dan berkata:
“Love you, babe.”
“You should.” Lisa dan Agus tersenyum dan Agus mengetuk pintu ruang sidang dan memasuki ruangan.
“Good morning, ladies and gentlemen.” Sapaan Agus serta pandangannya menyapu ruangan dari sebelah kiri ke kanannya. Dia menempati kursi kosong di ujung meja di depan layar projector. Dalam beberapa saat dia sudah siap menjemput impiannya.
“Have you ever seen such situation like you are seing?” Slides Dedi berganti-ganti dengan film-film pendek tentang orang-orang yang diinterviewnya. Mereka berbaju lusuh dan sedang berada di pinggir jalanan Australia.
“Ssssshh…do not tell anyone! Aliens are coming. The government has been trying to fool us. But I anin’t gonna get fooled!” Kalimat itu diucapkan oleh seorang laki-laki tua yang tampak hanya tinggal menunggu ajalnya.
“Have you seen my son? He is the most handsome boy in the world. I lost him. Have you seen him?” Yang ini diucapkan oleh seorang wanita yang masih muda walaupun kemudaannya tertutup oleh rambut panjang lusuhnya serta pakaian yang bertumpuk-tumpuk.
Agus menunjukkan beberapa film pendek yang mirip-mirip. Setelah selesai dia menatap semua orang yang hadir dan berkata:
“People who are mentally challenged often feel like they are on a mission. They do anything to convince other people about what is happening to them. Normal ones of course do not bother about them. But of course we do. We are scholars. We have theories and efforts to make them heal.
Meet Dedi Suhendra. He is one of the groups I showed you earlier. He thinks he is on a mission. His mission is cloud reading. People around him tell me that he is obsessed with clouds ever since he rented a room up on the 5th floor in Jakarta, Indonesia. He moved to a small house in Cibibur—an area in Jakarta. He is the object of my study. I started with the assumptions that the mentally disturbed usually think that they are on a mission and other people would not believe them. But what if they do? And what happens if the mission is finally accomplished? Will they heal?”
Agus membungkuk dan mengambil sebuah LCD projector dengan logo universitas Sidney.
“Are you familiar with this?” Dengan segera semua yang hadir memasang wajah bingung.
“Is this some kind of joke, Mr. Suryana?” Tanya professor yang paling tua di ruangan.
“Of course not, Sir. I am just making a point.” Agus menarik nafas panjang dan melanjutkan “This is university’s projector. As a matter of fact, this projector is used for this very room.” Setelah itu semuanya melihat ke atas dan terkejut karena tidak ada projector yang memancarkan slides-slide Agus.
Ketika mereka kembali menatap Agus, mereka menatap sebuah kotak pipih kecil sebesar external hard disk yang ada di pasaran dengan warna metalik serta garis pinggiran lurus berwarna biru muda.
“Meet Project 547. It is the lates invention of the world. It will be on market next year. I bought it. I installed certain images of clouds with patterns in it. I put in inside Dedi’s house. It projetcs cloud images throgh his windows.”
Semua yang mendengarkan Agus benar-benar terpana dengan apa yang dia ucapkan.
“I provided this gadget and a wife and a son for Dedi. Two persons who believe in him the most. He went on with his so-called mission and followed the lead I gave him. He thought that he had found signs of Katrina to be happenig in Indonesia. He believed that it was his mission to warn the President about this. I gave him a direct line to President—a false one, of course. He called the… President,” Jari-jari Agus membentuk tanda kutip “last night and warned him about the possible Katrina based on his findings.” Kemudian Agus menjelaskan penyekapan dan pembiusan Dedi.
“And right now I will be showing you what is happening to Dedi live from where he is.” Kalimat terakhir Agus membuat gelisah semua professor. Mereka bertanya-tanya apa yang akan mereka lihat.
“Sambungan live chat dengan webcam berjalan mulus dan sekarang di layar putih ruangan itu terlihat Dedi yang sedang menonton televisi tentang badai Katrina yang menyerang sebagian besar Indonesia dan negara tetangga. Dedi mendekat ke layar televisi tampak sangat sedih melihat beberapa korban di sana. Kemudian seorang reporter televisi memberitakan bahwa keanehan telah terjadi malam sebelumnya. Presiden Indonesia memerintakan Angkatan Darat untuk mengevakuasi total daerah Jakarta. Hanya ada beberapa yang mau mengikuti perintah Presiden. Yang tinggal di sana meninggal dunia semua.
Namun entah kenapa, tiba-tiba tangisannya berhenti. Dai menyeka air matanya dan bangun. Dai tampak bingung apa yang harus dilakukannya. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Agus di ruangan itu mengangkat teleponnya dan memerintahkan Hari untuk keluar dan menyanyakan siapa Dedi.
Hari muncul di kamera dan tampak bingung.
“Maaf, anda siapa ya? Kok bisa masuk di ruangan ini?”
Dedi menatap Hari sangat lama.
“Saya Dedi. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa sampai disini. Maaf. Saya … maaf, saya pusing. Bisa antarkan saya pulang?”
“Rumah anda dimana?”
“Daerah Cibubur.”
“Apa perlu ke kantor polisi dulu?”
“Buat apa?” Dedi menjawab setelah tampak berpikir.
“Istri anda di rumah?”
“Saya belum menikah. Bisa saya diantarkan pulang?”
“Baik.”
Kemudian Hari menggandeng tangan Dedi yang mulai lunglai. Di kamera terlihat telapak tangan Hari yang bertato jaring laba-laba medekat ke kamera dan melewatinya. Sejenak kemudian terdengar suara pintu ditutup.
Jakarta
7 Agustus 2010
10.00 WIB
Hall ruang sidang mahasiswa Universitas Indonesia
“Congratilations! Once again, congratulations!” ucap Lisa kepada pacarnya.
“Thanks, honey.” Kedia pasangan itu berciuman.
“Hoi! Ini kampus, gila!” Seorang laki-laki mendatangi mereka dan menghentikan ciumannya.
“Hey, bro!!!” Laki-laki yang datang itu memeluk pacar Lisa untuk beberapa lama.
“Akhirnya, man!! Cograts banget!! Lisa, boleh cium juga untuk celebration?”
“Kurang ajar, lo!” Pacar Lisa mendorong laki-laki tersebut.
“Ya uda, salaman aja, ya.”
“Ok,…” Kata Lisa. Tangannya yang lembut bersalaman dengan tangan bertato jaring laba-laba.”
“Thanks for your help to my boyfriend.”
“My pleasure. Seru banget!” Mereka bertiga tertawa.
“Yuk kita cabut dulu ya, Hari. Mau siap-siap buat graduation party ntar malem. Minumannya belum lengkap.”
“Lisa is always the perfectionist one. Ya udah. Selamet sekali lagi, ya buat kalian berdua deh.”
“Thanks.” Ucap kedua pasangan itu bersamaan.
“Dateng kan ntar malem?”
“Pasti.”
“Jangan kesasar!” Kata Lisa ke hari.
“Ntar kalo kesasar tinggal gua cari aja banner “CONGRATULATIONS dr. Dr. Agus Suhendra—the doctor of the lunatics. Hahahaha.”



One comment to...
“Pembaca Awan”
Avatar
Daffodil

tatonya diganti tato SARANG laba laba aja gimana? hihihi.




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Chang buru2 lari masuk kantor guru. Disana ada Dimas dan Dania.

Chang:       Guys,…lucu deh kelas gw tadi.
Dania:       Ada apaan?
Chang:       Gw kan ada activity neh. Gw suru anak2 nyiapin kertas kosong terus gw suruh gambar grid terus gw suruh juga mereka ngegambar satu binatang.
Dimas: […]

Previous Entry

Aku tahu aku mempunyai masalah dengan ingatan. Aku bisa saja segera lupa apa yang baru saja aku lakukan atau alami. Kadang aku bertemu dengan orang di jalan dan mengobrol dengan mereka untuk beberapa lama tanpa tahu pasti apa hubungan mereka denganku.Aku tahu masalahku sangat serius dan aku tahu aku perlu pengobatan medis. Aku sekarang mencoba […]

Next Entry