The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

1000 kutukan

November 5th 2009 in a short story

Arya tidak habis pikir mengenai apa yang terjadi terhadap desa yang dia tinggali ini. Seluruh kekuatan di otaknya kembali ke suatu legenda lokal desa ini.
Siapa sih sebenarnya Jaka Swara itu? Yang Arya tahu hanyalah bahwa Jaka Swara adalah orang yang ahli dalam ilmu hitam dan menggunakannya untuk segala urusan yang dia mau. Hal itu mengakibatkan masalah untuk semua orang. Seluruh desa mencoba melawannya dengan kekuatan fisik dan mereka gagal. Akhirnya mereka memutuskan untuk melawan kekuatan jahat dengan kekuatan jahat. Mereka belajar ilmu hitam hanya dengan satu tujuan—mengutuk Jaka Swara. Sebagaimana mana semua hal di dunia, kutukan pun harus disertai dengan penebusnya yang biasanya dibuat susah oleh si pengutuk. Hal ini mempersulit semua warga untuk menghasilkan pemecahan yang akan menyelamatkan mereka.
Namun begitu, usaha mereka berhasil. Semua warga desa itu berkumpul di depan rumah Jaka Swara dan menyuruhnya keluar. Ketika dia sudah di depan pintu, pemimpin desa itu mengutuk Jaka Swara agar sengsara seumur hidupnya kecuali dia meninggalkan desa itu. Saat itulah Jaka Swara juga mengutuk bahwa masing-masing warga akan menikmati kegiatan mengutuk namun kutukan itu akan bisa hilang setelah mereka mengutuk orang lain. Setelah itu Jaka pergi meninggalkan desa.
Dan semuanya membawa Arya berdiam diri di goa Samudra ini. Ayahnya mempunyai hutang sangat banyak kepada seorang saudagar yang akhirnya menjajikan menghapus semua tanggungannya asalkan anaknya—Arya—mau menikah dengan anak perempuannya. Ayahanda Arya setuju namun Arya menolaknya. Arya sudah mempunyai pilihan lain. Hal ini membuat Ayahandanya marah dan mengutuknya bahwa dia akan selamanya hidup sendirian. Kutukan itu akan hilang jika dia bisa menemukan cara mengakhiri kutukan desa ini. Ayahandanya tahu bahwa melakukan itu adalah sesuatu hal yang susah. Setelah kutukan itu, Arya mengalami berbagai macam masalah di desanya sampai akhirnya dia memutuskan untuk berdiam diri di Goa Dharma.
Dia menghabiskan hari-harinya berusaha untuk mengakhiri kutukan yang didapatnya agar bisa kembali ke kekasih pilihannya. Arya berpikir dan terus berpikir betapa Jaka Swara telah menebar kebenciannya kepada setiap pennduduk desanya. Sekarang semua orang sama. Matanya penuh dengan kebencian dan kehati-hatian yang negatif akan kutukan dari siapapun. Mereka bersikap waspada yang sangat berlebihan bahkan kepada anggota keluarga mereka sendiri. Semua orang berubah menjadi seperti itu. semua orang menjadi sama!
Dan ketika berpikir seperti itulah Arya menemukan jawabannya! Dia memutuskan untuk keluar Goa Dharma dnan kembali menuju ke desanya. Dia sudah bertekad akan mengutuk orang pertama yang dia temui dengan kutukan yang akan membebaskan seluruh warga desanya dari permainan konyol Jaka Swara ini.
Perjalanan dari Goa Dharma ke desanya memakan waktu satu hari satu malam. Di sepanjang perjalanan, Arya terus menyempurnakan kutukan yang akan dia sampaikan kepada orang pertama yang dia temui. Pikirannya dipenuhi semangat akan berakhirnya semua masalah yang dihadapi desanya.
Setelah satu hari satu malam berjalan, Arya tiba di padang rumput yang sangat luas yang dibatasi oleh pohon-pohon Jati yang sangat tinggi. Ini adalah jalan masuk ke desanya. Dari jauh dia melihat sesosok manusia berlari kencang. Dia adalah orang yang akan Arya kutuk!
Walaupun tenaganya sudah habis, Arya mencoba untuk berlari mengejar orang itu. Begitu sudah dekat, dia sangat terkejut karena ternyata yang dikejarnya adalah seorang anak kecil yang sedang berlarian mencoba menangkap seekor kelinci.
Arya bersembunyi di belakang salah satu pohon Jati. Napasnya terenggah-engah berburuan dengan pikirannya. Apakah dia harus mengutuk anak kecil itu? Apakah dia bisa?  Dan apakah anak kecil itu bisa membuat perubahan ke semua warga desanya? Arya benar-benar tidak mempunyai pilihan. Dia harus segera melakukannya. Jika dia memutuskan untuk terus berjalan, anak kecil itu bisa melihatnya. Atau haruskah dia memutar mengambil jalan yang lebih jauh? Dai tidak punya energi untuk itu. apakah dia harus menunggu orang yang lebih dewasa untuk datang? Orang yang lebih dewasa tentunya akan lebih bisa menerima kutukan Arya dan membawa perubahan. Dengan pikiran itu Arya menilai bahwa yang lebih muda tidak akan bisa melakukan apa yang harus dia lakukan demi warga desa. Apakah benar adanya?
Arya sangat pusing sekali dengan semua pertanyaan di kepalanya. Sementara itu, si anak kecil berhasil menangkap kelinci yang tadi dikerjarnya dan sekarang seedang tidur-tiduran di padang rumput sambil memeluk kelincinya.
Arya memandangi anak kecil itu dari jauh sambil menunggu kembalinya napas yang teratur. Akhirnya dia memutuskan untuk mengutuk anak kecil itu. Dia berjalan mengendap-endap mendekati si anak. Begitu sudah cukup dekat, dia segera memusatkan pikiran tentang kutukan yang sudah dia rancang di pikirannya:
Semua orang di desa ini penuh dengan kebencian yang dalam. Semuanya selalu ingin mengutuk orang lain yang ada di dekatnya. Semua orang SAMA!
“Hey, anak kecil!”
Si anak kecil itu menoleh.
“Aku kutuk kamu menjadi berbeda dari semua warga desa ini sampai semua orang berubah!”

No Comments to...
“1000 kutukan”
Avatar
Daffodil

'Horeeee!' kata sang anak kecil dengan wajah polos….Btw, kapan kapan elo nulis crita trus kita terus terusin gitu yok. Lucu kaliii. Apa engga? Hihihi.


Avatar
Je

kakakakakakakak. ternyata anak kecilnya elo ya, daff. kakakakakak.ide bagus tuh. gimana kalo kita kelarin http://www.indonesiaeducate.org dulu? kakakakakakakakakak.


Avatar
mariskova

gak ngerti


Avatar
Je

mar: biasa bukan? LOL




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Gw punya temen yang punya banyak anak asuh yang banyak sekali mendayu2 dalam bahasa tulis mereka. Gw bilang ke dia:”Mbaaaaak,…seumur2 kayaknya ak g bisa deh kayak gt. Gaya tulisanku tuh lebih ke gaya yang apa adanya gitu. Kalo harus nulis yang romantis pun biasanya lebih ke yang romantis logis. I mean,…susah buat ak nulis:     […]

Previous Entry

Sebelum membaca postingan ini, ada baiknya kalo klik dulu disini:)

Ketika Dimas memasuki kantor guru, Chang sedang  mempersiapkan segala sesuatunya sebelum mengajar.
Dimas:           Hy Chang.
Chang:           Hey.
Dimas:           Ribet banget lo bawa gitar segala. Dari rumah?
Chang:           Iya. Mau ngajak murid2 nyanyi di kelas.
Lalu Chang memainkan gitarnya. Dia memainkan salah satu […]

Next Entry