The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Keep calm and try again

October 19th 2015 in a short story

Pikiran itu muncul lagi. Dan semakin hari semakin jelas.
“Aku pasti bisa!” Itu yang kukatakan kepada diriku sendiri.
“Aku berhak! Setelah apa yang dia lakukan selama ini, aku berhak! Dan aku bisa!”
Kalimat-kalimat itu benar adanya. Mulai tujuh bulan yang lalu aku sudah memegang kendali akan uangku lagi. Aku sudah mendapatkan pekerjaan baru yang membuatku lebih sering bertugas kelar kota. Aku bahkan sudah lebih berpengalaman. Aku bisa. Aku tahu aku bisa dan malam ini aku akan membuktikannya.
Hapeku berbunyi. SMS.
“Mas, saya sudah dilobby.”
Kenapa aku gugup? Aku segera mengambil dan memakai sepatuku. Setelah yang kanan terpasang aku mempertanyakan keputusanku. Aku sebenarnya bisa memakai sandal hotel. Toh cuma di lobby. Aku melepaskan sepatu itu dan kaos kakinya lalu menuju ke sandal hotel.
Dua langkah kedepan pintu dan sandal itu robek karena terlalu tipisnya. Atau karena aku gugup? Aku kembali ke sepatuku. Setengah terpasang. Aku bisa menekan kakiku masuk di jalan. Dan sampai di depan pintu aku sadar kartu kedua kamarku masih di meja di dekat televisi. Aku menuju kesana. Dengan cepat aku menggeseknya sampai ke ujung meja sementara setengah badanku sudah menuju pintu. Dan kartu itu terjatuh.
Aku membungkuk untuk mengambilnya. Perutku sakit karena tertekan setelah makan. Terserah sajalah. Cuma sakit sebentar. Nanti juga hilang sendiri. Aku ambil kartunya sambil berdiri tegak. Dan terjatuh lagi kartu itu.
Mungkin aku harus berlutut supaya perutku tidak sakit lagi. Dan aku bisa. Lalu berdiri.
“Aaaaaaaaaargh!”
Badanku limpung. Lututku sakit dan tak kuat menopang tubuhku. Aku terjatuh di kasur merintih kesakitan. Dan hapeku berbunyi lagi. Kali ini telepon. AKu tidak mungkin mengangkatnya karena tanganku sedang menahan tempurung lututku yang entah kenapa. Aku hanya bisa melirik ke hapeku. Iya, dia menelpon. Mungkin karena aku belum menjawab pesannya tadi.
Aku coba menurunkan lututku pelan-pelan dalam keadaan aku telentang di kasur kesakitan. Dan aku berhasil. Ketika telapakku sudah menyentuh lantai, hapeku berhenti berbunyi. Aku mencoba meraihnya dan terburu-buru memencet Home button. Pandanganku terhenti di wallpaper merahku yang bertuliskan “Keep Calm and Try Again”.
“I WILL try again.”
Pelan-pelan aku mencoba duduk. Aku kemudian membalas telponnya dan meminta dia menuggu dengan alasan aku sedang ada di kamar mandi.
Aku berdiri. Susah. Aku tetap mencoba tenang dan berjalan ke arah pintu kamar. Aku akan lepas saja kartu kamar yang tertancap di bagian power. Dan aku berhasil. Segera kamarku menjadi gelap.
Satu tengokan keluar dan cahaya sudah ada dimana-mana. Aku tutup pintu dan berjalan menuju lift. Sambil menunggu lift turun aku mencoba melihat ke arah lututku. Semoga saja tidak serius. Aku tidak mau berakhir seperti almarhum ayahku yang berjalan pincang selama bertahun-tahun.

Ting.
Pintu lift terbuka. Ada tiga orang disana. Dan ternyata lift itu harus naik dulu. Aku menarik nafas panjang. Dua lantai naiknya. Dan ketika terbuka ada dua anak kecil laki-laki memegang es krim dan masuk berteriak-teriak walaupun orang tuanya sudah ber “hush” beberapa kali. Mereka tersenyum kearahku. Aku hanya diam menengadahkan wajah ke angka yang tertera di lift.
Dan tiba-tiba salah satu anak didorong oleh lainnya dan es krimnya jatuh ke sepatuku. Berapa desible tingkat kegaduhan di lift malam itu. Si Ayah menyeret cepat anaknya yang mendorong adiknya? atau kakaknya.. Aku tidak peduli! Si Ibu berusaha menenangkan anaknya yang menangis dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
“Ayo minta maaf ke Om.” Tiba-tiba seolah-olah ibu itu baru tersadar akan apa yang terjadi pada sepatuku. Dan begitu juga si ayah yang segera mengeluarkan sapu tangan untuk mengusap sepatuku. Padahal aku hanya membuat gerakan menendang ke dinding lift dan es krim itu sudah berpindah posisi.
“Sudah, ngak papa, Pak. Namanya juga anak-anak.”
“Iya, nakal ini anak.” Ibu itu menjewer telinga anak pendorong saudaranya dengan keras. Dan anak itu kesakitan dan menangis.

Ting.
“Akhirnya!” Kataku dalam pikiranku.
“Iya akhirnya uda sampai lobby. Maap sekali ya, Pak.”
Aku segera menoleh dan terkaget karena ternyata aku mengucapkan apa yag ada di pikiranku! AKu memilih untuk tidak melihat mereka lagi dan langsung keluar lift serta merogoh hape di kantongku.
“Shit!”
Ketinggalan di kamar!
Aku berjalan kearah lift lagi dan mencoba menahan pintunya terbuka.
Terlambat!
Dan sekarang aku seperti orang linglung di lobby. Banyak orang melihatku. Pasti aku melakukan hal yang sama mengucapkan “Shit” tadi dengan keras. Aku hanya harus mengitari lobby ini untuk melihat wanita berdandan pelacur dan tugasku selesai. Itu saja.
Aku berjalan memutari lingkaran besar dengan tanaman yang rimbun di tengah-tengah lobby.
OK. Ada dua suspect. Satunya berpakaian hitam eksklusif. Pasti wanita itu jutaan dan jelas bukan di budgetku. Jadi aku mendekati satunya. Pakaian ketat bermotif bunga. Aku tidak langsung mendekatinya.
“I want this night to be perfect.”
Aku berdiri di pojokan lobby. Aku mengatur nafas sambil memandangi wanita itu yang sedang menunduk melihat ke hapenya.
Rambutnya panjang selengan, lurus, hitam. Kulitnya putih. Aku tidak bisa melihat mukanya karena tertutup rambutnya. Badannya langsing. Sintal. Kakinya panjang. Dan aku berhenti disana.

Sepuluh menit kemudian aku keluar dari toilet lobby. Wajahku basah. Tisu tidak menghapus kering air dimukaku. Aku mengambil napas panjang dan berjalan menuju ke wanita itu.
Lima menit kemudian aku sudah di dalam lift.
Beberapa saat setelah itu kamar hotelku terang.
Aku ke kamar mandi.
Aku bersiap-siap.
Lalu aku merebahkan diriku.
Aku mengosongkan pikiranku kecuali tentang satu hal.
Malam ini ? gelang kaki.
Kemarin malam? handbag hijau.
Seminggu yang lalu? Hape Samsung galaxy note 2.
Dua minggu sebelumnya? anting hati.
Dan daftarnya bisa semakin mundur ke belakang.
Daftar apa saja yang mengingatkanku padanya.

 

-Je-




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

“Hari-hari terus saja tidak memperhatikan aku. Sombong sekali. Orang-orang kesana kemari mengurus tahlil. Tiba-tiba saja tingkat religius di rumah ini meningkat. Apa harus menunggu ada yang meninggal dulu? Telepon berbunyi terus-terusan. Yang telepon rumah lah, hape lah. Walaupun isak tangis yang tiba-tiba muncul ketika mengabari saudara jauh soal kematian mama sering kali muncul, kesan kehilangan […]

Previous Entry