The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Tapi…

April 11th 2013 in a short story

‘Dengerin gua!’

Dia memang menatapku. Dia mendengarkanku. Tapi aku benci muka sabarnya. Muka yang tidak bergairah hidup! Muka laki-laki yang tidak pernah ada sparks-nya. Laki-laki yang pasrah. Laki-laki yang lemah!

‘Gua boseeeennn gini gini teruuus. Gak ada variasi idup. Pulang kerja gua balik rumah nyiapin makanan buat elo. Buat perut elooo!!!’ Aku menunjuk-nunjuk perut buncitnya. Amarahku terkumpul di ujung jari telunjukku. Jariku detonatorku.

‘Kapan gua lo ajak jalaaan? Eh, asal tau aja ya. Gua masih manusia normal yang mau melihat dunia. Mau bergaul dengan temen-temen gua. Cari hal baru. Cari suasana baru. My brain needs something new! Or probably, someone new???’

Nada pertanyaanku penuh ancaman. Aku merasa bisa survive bersaing dengan gadis-gadis sekarang. Aku tidak akan kalah. Pahaku masih mulus untuk menarik perhatian laki-laki. Aku masih bisa!

‘Yang ada sekarang apaaaa? Even makan malam pun kita ada jadwalnya? Boseeen idup gini terus ama elo. Dan liat elo! Kusut. Jorok. Dekil. Itu karena elo gak merasa harus ketemu orang lain setelah elo pulang kerja. Elo nggak anggap gua masih ada disini dan butuh pemandangan seger. Elo nggak hormatin gua! Elo pikir gua akan terima apa adanya? Eeeeh, asal tau. Robert juga masih bisa gua goda and bakal mau tuh dia even gua janda!

Aku mengharapkan perlawanan. Aku butuh dilawan. Aku butuh merasa menang. Atapun bahkan kalah! Aku butuh api itu di dalam hidup ini. Tapi yang aku dapat hanya kayu mati yg teronggok di depanku. Kayu mati! Tidak ada kehidupan disana. Dia merampas masa mudaku. Dan parahnya juga jiwa mudaku. Sekarang aku terkurung di rumah ini. Tempat yang seadanya. Dan aku marah mengingat semua kesempatan yang aku korbankan untuk onggokan kayu ini.

Entah berapa lama aku terbakar. Marahku rata! Asapnya tinggi. Namun dia tetap duduk tenang di hadapanku.

Aku lelah. Aku terduduk dari berdiriku. Terlempar lemas seolah dayaku terserap oleh apa yang aku tidak tahu. Nol. Nihil.

Lalu dia berdiri. Dia melewati aku. Dia menyentuh pundakku sebentar. Sentuhan yang dingin.
Aku menoleh. Dia masuk ruang lain di rumah dan meninggalkanku sendiri. Sekarang aku hanya bisa menunduk. Kedua tanganku sudah tidak mengepal lagi. Hanya karena aku lelah. Mereka terbuka diatas pahaku seolah siap menampung titik-titik air mata yang mulai jatuh.

Diantara sibuk tangisku terdengar langkahnya mendekat. Langkah yang tenang. Dan tangannya menyodorkan segelas air putih dan elusan lembut dirambutku. Mataku terpejam menikmatinya. Gelasnya aku raih. Apiku mati…seolah tidak pernah lahir.

Dia mencium rambutku. Tangannya melingkar lembut di leherku. Dan aku berpikir sejenak… ‘Siapa Robert? Hanya anak muda yang akan membuatku hidup dan kemudian terbakar. Tapi laki-laki ini… Tapi laki-laki ini… ‘




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

So,

Been a long time not writing HERE. Berarti writingnya di yang laen2. Ok2, enough curhat. Now, more curhat.

 
Ni gw lg demen nge-youtube soal personalisasi gadgets. Judulnya punya gadgets baru (Lagiiiii??? When will you stoppp???)
Now, now, kayaknya yang lebih penting yg didalem kurungan ya…

Gini2,..research shows that our brain does not need something complicated to stay young. […]

Previous Entry

Lo tau makhluk apa di dunia ini yang bisa bikin gw nyerah?

Bukan yg halus2 ato yg kasar2. Gw bisa alus n bisa kasar n kasar banget. Tanya deh psikolognya korban2 gw. Wuiiiihhh.

Satu2nya makhluk yg bisa bikin gw takluk 7 langit adalaaaahhh….DOKTER GIGI!!!

Yup. Selamat ya para dokter gigi seduniaaaa. Ini adalah awal dari perjalananmu yang masih […]

Next Entry