The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Bonbon-Tommy-Terra-Icha

September 14th 2012 in a short story

Agustus 2011

“Bon, yakin lo?”

“Uda lah, Ter. Buat gua ini bukan masalah keyakinan lagi. Gua emang sampe sekarang nggak yakin. Cuman ya,…gimana lagi? Sian si Tommy.”

Terra menatap Bonbon dan dia merasa tambah kasian tiap harinya.

“Kapan lo mau kesana?”

“Secepatnya. Telepon dia gih.”

Terra mengangkat teleponnya dan Bonbon menyruput kopi paitnya.

“Halo….?”

 

Juni 2011

Tommy melihat hapenya dengan rasa kesal. Di tandailah sms yang sudah berpuluh-puluh itu. Lalu dia memilih menu “Delete All” dengan sekuat tenaga walaupun sebenarnya satu sentuhan lembut saja sudah cukup. Dia benar-benar terganggu dengan semua pesan-pesan itu. Untuk mencegah perasaan buruknya, dia menuju ke pasar aplikasi dan mengunduh cara mutakhir untuk memblok telepon dan sms. Sebentar lagi tulisan-tulisan tidak penting dari mantan sahabatnya, bukan,…mantan temannya itu akan berhenti dan hidupnya akan damai lagi.

Tommy buru-buru menginstall aplikasi itu dan tidak lama terbukti aplikasi itu gagal. Ada notifikasi satu sms dan satu telepon baru saja di blok. Dan disitu dia melihat nama “Bonbon”. Tommy bertambah kesalnya. Dia mencoba untuk tahu apa yang salah dari aplikasi itu. Kembalilah dia ke pasar yang penuh dengan icon-icon itu. Dilihatlah reviewnya. Ternyata banyal sekali yang memang mengalami apa yang baru saja Tommy alami. Aplikasi yang satu itu tidak berhasil.

“Sialan!” hati Tommy mengutuk.

Dia yakin ada aplikasi lain yang akan membantunya menghentikan tulisan-tulisan yang tidak penting dari mantan temannya itu. Tapi dia tidak mempunyai waktu untuk itu sekarang. Dia harus segera bersiap-siap untuk bertemu Icha. Dia harus tampil maksimal! Mengejar calon pacar adalah sumber adrenalin tertinggi buat Tommy. Dan karena ini Icha,…Tommy bisa merasakan berapa kali lipatnya!

Ditengah-tengah lengeketnya tangan Tommy karena hair gel, dia ingat harus memberi tahu Icha nomor dari hapenya yang lain sehingga dia bisa mematikan hape yg sudah dipenuhi spam-spam dari Bonbon. Diangkatnyalah hapenya dan masih saja dia melihat beberapa pesan lagi dari laki-laki gendut itu.

“Tom, gua uda nggak tau lagi gimana caranya ngomong ama elo. She’s no good, Tom. NO GOOD!

“Tau apa dia!!!!!” Cemoohan itu sangat keras bergaung di hati Tommy. Jari-jarinya lincah berpindah ke “New Message” dan mengirimkan nomornya yang lain ke Icha. Lalu dengan segera terdengar bunyi hapenya yang berisik itu mati.

“Damaiii….”

Tommy mendapat balasan pendek:

“Uda nggak sabar ketemu kamu.”

Dia tersenyum. Sudah cukup lama dia tidak ber-aku-kamu. Cukup kama untuk membuat dolby stereo deg-degan sound di hatinya.

Cheking persiapan terakhir di depan cermin membuat Tommy merasa siap. Dia berpamitan ke mamanya dan segera meluncur ke tempat Icha.

 

CC di mobilnya ditambah dengan CC di adrenalinnya membuat jarak tempuh tercapai dengan sangat cepat. Icha keluar rumah. Yang lain sudah tidak penting lagi. Icha masuk mobil Tommy. Yang lain sudah tidak ada. Icha menyapanya dengan akhir kata “sayang”, Yang lain,… yang lain yang mana?

Mereka berdua melaju ke dua angka. Angka 2 dan angka 1. Di perjalanan Icha menginterogasi Tommy.

“Temen lo yang homo tu gimana?”

“Mantan temen.” Jawab Tommy pendek.

“Iya.”

“Nggak ganggu-ganggu lagi kok.”

“Yakin? Kalo gak ganggu, ngapain akhirnya lo ngasi nomor” Icha membuat tanda kutipan dengan jari-jarinya “ ‘kerjaan’ elo ke ke gua?” Hape lo lo matiin kan?”

“Udah gakpapa. Low bat pulak. You know,…touch screen phones.”

“Moga-moga ini terakhir kali gua ngomong ya. Gua gak bakal bisa maafin temen homo elo itu yang udah ngatain gua ular.”

“I know, Hon. I know.”

“Elo juga gitu. Kapan elo mau nembak gua? Lama banget sih. Keburu gua diambil cowok lain!” Komentar Icha ketus.

“Ya tunggu aja lah. PDKT dulu, yang. Ok?”

“PDKT ampe ke hotel? Biasa lo ya? Awas lo! Dasar cowok!”

“Hehehe,…love you, too. Hehehe.”

September 2011

“Terlalu kuat? Edaaan!!!!! Ini harus cepet-cepet, Terraaaaaaa.”

“Gua tau elo kesel. Tapi..”

“Gua bukan kesel lagii. Gua kessssseeeeelllll!!!!! Temen baik gua, Ter!!! Temen kecil guaaa! Lo itung deh berapa orang punya temen kecil di Jakarta kayak gini!”

“Ya elo jangan marah ama gue dooong.”

Bonbon menarik napas panjang dan lalu menunduk.

“Sorry. Gue cuma…” Bonbon mengangkat kedua tangannya ke udara di samping pundaknya dan lalu menjatuhkannya ke pahanya.

“Gue nggak tahu harus gimana lagi.”

“Gue tahu. Dan gue juga tahu ini berat. Inget kan gue pernah ngalamin yang sama soal Joni mantan gue dulu. Sabar ya, Tom. Elo temen yang baik banget. Tapi mungkin elo harus sedikit…” Terra menatap dalam mata Bonbon “…percaya.”

Dalam hati Tommy ada yang berbisik pelan tapi tegas… “D-O-S-A. Jangan percaya!”.

 

Desember 2011

Menjelang Subuh

 

Bonbon melihat foto-foto waktu cerianya dia dengan Tommy di Anyer. Dia ingat sekali waktu itu mereka taruhan siapa yang paling cepat bisa mendapatkan kenalan baru yang cantik disana akan membayar semua biaya liburan waktu itu. Bonbon juga ingat setelahnya dia yang menang karena bertemu dengn Terra dan sempat tergila-gila dengannya. Dia juga ingat bahwa Terra akhirnya memutuskan untuk jadi teman baiknya saja. Well, at least waktu itu Bonbon mendapatkan liburan gratis ke Anyer.

Di juga akhirnya tahu apa alasan Terra memutuskan untuk tidak menjadi pacar Bonbon. Terra bilang Bonbon terlalu baik untuk “dibeginiin”. Dan sekarang Bonbon meminta pertolongan Terra??? Siang nanti akan menjadi usaha terakhirnya. Setelah itu dia akan menyerah. Dia sendiri tidak abis pikir kenapa semuanya bisa seperti ini.

Adzan subuh terdengar. Bonbon mengambil wudhu dan solat. Di berdoa khusyuk. Dia menangis. Tommy adalah teman yang baik yang sedang didzolimi. Dia benar-benar berdoa dengan sepenuh hati.

Setelah selesai, ada sesuatu yang mengusik di hatinya. Sesuatu itu serasa marah!!!”

”Ini tidak boleh!!!!”

Dorongan itu sangat kuat. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan pendek ke Terra.

“Girl, sorry. Cant do it. I guess I just have to give up on him this way. I will just pray. Sorry. I hope u understand. TTUL, k?”

Untuk beberapa saat lamanya Bonbon masih menatap hapenya dengan pikiran yang macam-macam. Sampai tidak lama setelah itu… hapenya bergetar. Nama dan wajah Tommy muncul. Dan dia bisa bernapas lega karena semua ini sudah selesai.

 

Beberapa jam setelah itu Bonbon memutuskan untuk menghapus semua pesan di hapenya. Tetapi sebelumnya, dia membaca beberapa pesan-pesan tersebut.

 

“I love you, Terra.”

“Love you, too.

“Bon, dear, you’re too nice. Gue nggak bisa kayak gini. Gue harus ketemu elo n ngomong. Kapan bisa?”

“I’m glad that you have forgiven me. Sekali lagi gue bener2 minta maaf uda kayak gt ke elo. Rili2 sorry.”

“No problem, gal. Nonton yuk besok? As friends.”

“Elo sendiri bilang kalo elo sering2 ke Jakut berarti itu gr2 Icha. And elo jg blg, “apa gw didukunin ya? U said that to me, Tom!”

“That was a joke, you fool!”

“Nid 2 talk.”

“Besok ya, Bon. Rada jauh. Tasik. Skalian jalan. Hehe.”

“Gue masih blm yakin, Ter.”

“Coba dl aj. Buktinya dl lo klepek2 ma gw pas do Anyer. Manjur deh. LOL”

“Gue difitnah homo, Ter. Gue difitnah mlorotin duitnya Tommy. Uleeer tu ce.”

“Namanya Bang Tio. Dia uda liat Icha dari jauh. Bener dugaan elo,…dukun!”

“She’s gone. Gue g tau napa. Cn we talk? Wana apologize for evtin.”

“Sure.”

 

-Je-

 

 

 

 

 


6 comments to...
“Bonbon-Tommy-Terra-Icha”
Avatar
daffgurl

Mmmm….


Avatar
Je Agam

ckckckckckckckckck napeeeeee?? hihihihihihi


Avatar
Renotxa

Ow my…..

–menganga–


Avatar
Je Agam

Karena?


Avatar
Bung Iwan

Lama ngga nulis ya, mas?
Aku mesti siap2 baca tulisanmu lebih dari dua kali per title… Kalo diminta mereview, aku menyerah.
Jadi inget cerpennya Ayu Utami soal sms. Aku lupa judulnya. Ngga ada nama tokoh. Cuma percakapan aja. Pembaca diminta menyimpulkan sendiri ceritanya. Ini… Terinspirasikah?

You’re good!!!!


Avatar
Je Agam

Dan gw bingung karena emang elo bener. Lama kali gak nulis. Cemana ini? *efek abis dr medan. LOL




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

A couple of days ago I read an article on Google Current—An Android App—about first days when a scientist was a bout to launch the first ever touch screen—iPhone something. I was sooo inspired with the way the article was written (sorry I forgot the link). The words they used are sooooo me. They were […]

Previous Entry

Like seriously,…hello world. Where have you gone?

I’m tired here with this and that. Making a change? Always…always…not thinking that it is the right time. Sorry but on this n that, I am not the ‘just-close-your-eyes-and-jump’ type of man.

Mmmmmpppphhhh….

Next Entry