The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Penari-part 4-end

February 28th 2012 in a short story

This is the last part of PENARI.

Arianna sudah berada di belakang panggung. Tidak seperti biasanya, dia merasa kesadarannya tidak mau berkompromi dengan apa yang dia inginkan. Seolah-olah pikirannya bukan menjadi sapu lidi, tetapi menjadi masing-masing lidi yang tidak terikat. Dan parahnya..,ujung-ujungnya yang tajam saling bermain anggar. Arianna tidak tahu ujung yang mana yang berkuasa. Seolah dia hanya bisa memandangi bagaimana masing-masing mencoba mengatur dirinya. Dia bisa saja berjalan ke ruang rias dan duduk disana. Dia bisa saja menjawab pertanyaan orang-orang d sekitarnya. Dia bisa saja memakai kostum yang dia pakai. Tetapi semua dilakukannya bukan olehnya.

Arianna teringat hawa dingin yang manyakitinya semalam. Dan dialah yang mengambil alih dirinya. Dialah juga yang menyeret kaki-kaki Arianna menuju ke panggung bersama para penari lainnya saat ini.

Musik sudah dihidupkan. Biola sudah mengiris-iris yang mendengar. Dan Arianna merasa tekukan kakinya saat ini sangat benar walaupun sakit dirasanya. Sangat benar…seperti yang dimaui Dasa. Arianna memutar dan melihat wajah Dasa yang tampak senang di samping panggung. Tiba-tiba Arianna melihat Dasa sangat jelek. Sangat buruk rupa! Wajah Dasa tidak cocok disertai emosi bahagia. Dasa adalah kegelapan di setiap raut wajahnya. Tidak pantas ada keceriaan disana. Tidak cocok! Bibirnya tidak dirancang untuk tersenyum. Jadi ketika dia tersenyum, bibirnya menjadi jelek! Apa kumisnya? Kumis tipis yang mengurut jalur bibir atasnya jadi aneh saat Dasa tersenyum. Dan saat itu dia tahu mata yang tajam tidak dimaksudkan untuk laki-laki yang tersenyum. Arianna salah! Dia sudah berusaha membuat Dasa bahagia dan begini jadinya?

Arianna masih memandang Dasa ketika dia sadar bahwa harusnya dia memutar tubuhnya ke depan menghadap ke arah penonton.

“Sialan! Aku terlambat memutar badan!”

Lalu Arianna memutar badannya. Dan dia terkejut karena badannya sudah ada menghadap ke depan. Dia tetap memutar seolah hanya mengisi badan yang kosong namun bergerak-gerak menurut sayatan biola. Ketika sudah pas antara jiwa dan raga, Arianna dihadapkan ke penonton yang gelap. Seolah tidak ada siapa-siapa dan apa-apa disana selain dua sinar merah kecil yang terang. Sinar itu tidak melepaskan pandangan mata Arianna. Dan sinar itu semakin terang dan tajam. Arianna membayangkan sepasang mata serigala yang mengintainya di dalam hutan di malam yang gelap.

Suara drum menggebuk kencang. Mata itu tetap menatap.

Arianna melompat tinggi mennggegam udara kosong. Mata itu masih begitu.

Arianna melipat tubuhnya ke bawah. Mata itu masih dirasakan Arianna.

Arianna memutar tiga kali dan waktu menghentikannya dan rambutnya dibelai tiga penari lainnya. Mata itu juga membelainya.

Rambut Arianna ditarik pelan ke kiri. Badannya mengikuti. Kaki-kakinya tidak. Mata itu memaku matanya.

Malam itu hanya ada Arianna, mata merah itu dan hawa dingin yang hadir di dalamnya. Dasa hanya muncul sedikit dan tidak penting seperti aktor lama yang hanya mejadi cameo di sebuah block buster movie dengan standing ovation seiring dengan memudarnya dua sinar merah.

Ketika semuanya selesai-Arianna bersimpuh dengan rambut panjang menutupi tubuh munglinya-terdengar tepuk tangan yang kompak dan lama. Arianna tersenyum diantara napasnya yang memburu satu sama lain sampai dia tidak tahu yang mana yang lebih dulu. Yang dia rasakan adalah panas tubuhnya naik mendadak dengan butiran-butiran keringat yang tidak dia rasakan sebelumnya. Arianna merasa seperti baru saja mendarat di Dubai setelah satu jam terbang dari Antartika. Dia masuk ke samping panggung dan Dasa buru-buru memeluknya!

Di tengah-tengah hiruk pikuk penari yang menerobos mereka berdua untuk masuk dan keluar panggung, Arianna merasakan badannya sangat panas dan dalam keadaan itu sebuah pelukan dari laki-laki tidak akan berarti banyak selain ketidaknyamanan. Arianna melepaskan diri dari pelukan Dasa.

Laki-laki itu masih jelek di mata Arianna. Sungguh dia berpikir Dasa tidak seharusnya tersenyum dan menyipit dan memuji-muji dia. Hilang ketampanannya. Arianna menuju ruang ganti dan melepaskan pakaiannya berganti dengan penutup kesehariannya. Diambilnya motorolla di tasnya. Ada sebuah pesan.

“Gua nonton lo ya. Damar.”

Arianna segera lari keluar kamar ganti dan menuju ke dekat penonton sembari menelpon nomor yang tadi mengirimnya pesan. Nadanya tersambung. Tapi belum ada kepala yang muncul lebih tinggi dari kerumunan penonton. Arianna sempat berpikir bahwa mungkin mulai sekarang hidupnya adalah sebuah film drama romantis picisan dimana Damar akan berdiri di belakangnya. Arianna bahkan sangat menghayati peran itu sehingga dia memutar diri pelan-pelan berharap Damar juga menghayati perannya. Ketika dia sudah memutar, Damar ada disana!

“Halo.., sukses?” Suara Damar terdengar di telepon Arianna.


One comment to...
“Penari-part 4-end”
Avatar
sona

dasa udah jelek masih aja terus dilirik ariana, memang dasar wanita..ckckck…hallo…sukses?hehehehe




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Penari–part 1

Penari–part 2

Damar dan Arianna seolah duduk berdampingan melihat kilatan adegan-adegan yang tiba-tiba muncul di depan mata mereka:

Arianna sedang berada di ruang latihan. Arianna berkeringat dan badannya merasa kelelahan tingkat tinggi. Tetapi hatinya seolah berkata ‘Terus! Terus!’

Arianna menyeka keringatnya. Badannya meliuk lagi. Sekilas dia bersenggolan dengan penari lain. Badannya terguncang dan limbung. Dia terjatuh. Dan […]

Previous Entry

I have shared much joy I got from this COUGAR TOWN  TV series to some of my friends–if I cannot say ALL. What joy? What joy?

Well, that series provide you with mini game, as I’d like to call it. This is an example. When the casts get together, sometimes they create some sort of rules […]

Next Entry