The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Penari–part 3

February 25th 2012 in a short story

Penari–part 1

Penari–part 2

Damar dan Arianna seolah duduk berdampingan melihat kilatan adegan-adegan yang tiba-tiba muncul di depan mata mereka:

Arianna sedang berada di ruang latihan. Arianna berkeringat dan badannya merasa kelelahan tingkat tinggi. Tetapi hatinya seolah berkata ‘Terus! Terus!’

Arianna menyeka keringatnya. Badannya meliuk lagi. Sekilas dia bersenggolan dengan penari lain. Badannya terguncang dan limbung. Dia terjatuh. Dan musikpun berhenti. Arianna tidak mengeluh. Dia segera berdiri di atas lantai yang sedikit basah karena keringat di telapak tangannya ketika keduanya bersentuhan untuk menopang tubuhnya naik berdiri. ‘Maaf.’ Arianna tertunduk. Dan musik pun mulai lagi. Dia bergerak cepat dikuasai irama disekitarnya. Detak jantunya sudah sama iramanya  dengan musik itu. Lebih cepat ketika cepat dan melambat ketika lambat. Wajahnya bersemangat ketika cepat dan menyayat ketika suara biola muncul lambat. Dia dan tubuhnya dan musiknya sudah tidak berbeda. Arianna memutar seiring rambutnya yang terbang sampai keujung. Kain merah cerah dari bahan sutera yang tiba-tiba menjadi perhatian di adegan itupun–yang menutup badannya–segera melonggar. Lalu musik menuntutnya untuk berlutut dan menunduk. Rambutnya terjatuh. Dan yang menutupi bahunya pun perlahan turun. Hanya ada rambut panjangnya melapisi dadanya. Dan tiba-tiba hanya ada dia dan musik disana….dan ada satu suara dari pandangan mata.

”Satu… Satu… Kamu hebat. Kamu cantik. Aku ci…’

Adegan tadi seolah berputar-putar dari pelan lalu cepat. Warna-warna berubah jadi abu-abu lalu hitam dan…kosong.

Kalimat dari laki-laki itu mengusik Damar. Dia sengaja membawa paksa Arianna kembali ke kamarnya yang kecil.

Seolah tidak terima, Damar bertanya:

‘Siapa tadi?’

Arianna masih bergulat dengan apa yang baru saja dia alami. Adegan-adegan itu…ada dia…ruang latihan…dan…

‘Dasa… Sutradara.’Kalimat itu keluar begitu saja tanpa Arianna menyadarinya.

‘Ok.’ Damar berubah ekspresi, ‘Aku tadi melihat banyak gerakan pinggul. Bisa berdiri sebentar?’

Arianna masih merasaka pusing yang hebat. Tapi dia mendengar apa yang dikatakan Damar dan menurutinya.

Ketika dia sudah diatas kedua kakinya, dia melihat tangan Damar mendekati pinggulnya. Jari-jari kokoh itu sedikit menarik turun bagian penahan celana pendek Arianna. Dan terlihatlah pinggul sempurna. Damar berdecak dalam hati…’Tentu saja…penari!!’

Damar mengelus pinggul Arianna. Dan hawa dingin masuk kesana. Arianna tahu dia tidak sendiri lagi. Dan itu membuatnya bergidik.Hawa dingin itu menemukan jalannya di tulang Arianna. Dia meretakkannya. Dan Arianna menjerit tersakiti sambil memegangi pinggulnya. Sakitnya mendudukkannya. Sakitnya meringkukkannya.

Ada suara ketukan di pintu…suara Ninit.

“Arianna, Damar, lo berdua gak papa?”

“It’s ok.” Kata Damar menjawab dari dalam kamar.

“Yakin?”

“It’s ok.” Diulanginya lagi jawaban itu dengan ketenangan yang sama.

“Arianna? Lo gak papa?”

Arianna sibuk merintih dan meringkuk seperti orang keguguran.

“Jawab dong. Gua masuk ya.” Kekhawatiran mulai menemami Ninit mengetuk pintu.

“Bentar. Abis ini kelar. Kita bakal keluar.” Jawab Damar.

“Lima menit lagi. Ntar gua masuk.” Ninit sudah berpikir buruk tentang semua ini. Bagaimana kalau ada apa-apa dengan Arianna? Dia harus bertanggung jawab!

Arianna sendiri sedang tidak perduli dengan teriakan Ninit. Dia sedang kesakita. Darahnya sedang diikat oleh hawa dingin tadi. Dan lalu alirannya menjadi cepat. Badannya panas. Dia berkeringat. Kasur pun basah solah tertiduri orang yang setelah mandi. Dan sekarang ujungnya pun tercengkeram tangan Arianna.

“Oh, God!” Arianna berteriak sangat keras.

Damar hanya bergumam:

“It’s not God. He’s busy.”

Dan pintu pun menimbulkan suara sangat kencang ketika Ninit berusaha mendobraknya.

“Damaaar! Bukaaa! Gua telpon polisi!”

Damar berhenti memandang Arianna yang kesakitan dengan malas dan membuka pintu. Ninit hampir saja menabraknya karena buru-buru dan terjerembab masuk.

Semuanya ini bukan sinetron untuk Ninit. Dia tidak berhenti berdiri terkejut melihat Arianna. Dia langsung mendekatinya dan mencoba mengguncang-guncang tubuh sahabatnya itu sambil bertanya berulang-ulang tanpa jawaban:

“Lo nggak papa? Arianna?”

Dan lalu dia melihat ke arah Damar.

“Lo apain dia?”

“Relax. Semua sesuai prosedur kok.” Damar mengambil rokok dan menyalakannya.

“Bajingan! Jawab lo apain?” Teriak Ninit.

“Relax. Emang gitu. Kayak yang udah-udah dulu. Cuma mungkin dia nggak tahan sakit. Bentar lagi juga ilang sakitnya. Kita tunggu diluar aja. Yuk.” Dan Damar keluar dengan santainya meninggalkan Ninit yang bingung tidak tahu harus berbuat apa.

Sekitar tiga menit Arianna masih kesakitan dan belingsatan. Lalu dia berangsur tenang. Dia mulai menatap mata Ninit dan berkata lemah:

“Gua nggak papa sekarang. Gua haus.”

Ninit beranjak mengambil gelas dan air dari dispenser di dekatnya. Dan dia memberikan minum ke Arianna yang sekarang sudah bisa duduk dan tenang. Dan mereka menunggu. Mereka menunggu semuanya kembali normal walaupun Arianna tidak akan pernah merasa begitu lagi.

Pintu kamar terbuka lagi. Arianna dan Ninit keluar. Arianna dengan wajah cerahnya, Ninit dengan wajah menyesalnya.

“Damar, sorry. Tadi gua panik. Gua takut kenapa-kenapa soalnya…” Ninit tidak melanjutkan kalimatnya karena Damar sudah mengangguk mengerti.

“Nggak papa. Reaksi orang kan beda-beda. Anyway, udahan yuk. Kita jadi jalan kan?”

“Ha?” Arianna terkejut. Baru saja dia akan mengucapkan terima kasih dan mungkin yang lebih lagi…berbasa-basi dan mungkin menjadwalkan pertemuan berikutnya dengan Damar, tapi..

“Eh,..kok buru-buru?” Itu saja yang bisa keluar dari mulutnya.

Damar hanya tersenyum manis. Dia melihat perubahan Arianna. Dia sedikit bangga dengan apa yang sudah dilakukannya. Tapi tiba-tiba saja dia ingat suara itu. Dan lalu senyumnya segera menghilang.

“Kita harus pergi karena tadi uda janji sebentar aja disini. Ninit mau nemenin gua jalan. Lagi pingin beli topi. Jadi kan? Damar melihat ke arah Ninit yang lalu mengangguk.

Semua “Kabar-kabarin ya ntar. Cerita-cerita gimana nantinya.” Terdengar sangat aneh. Damar terlihat sangat buru-buru untuk meninggalkan tempat kos Arianna. Dan ketika mereka berdua sudah pergi, Arianna merasa sangat lelah. Dia kembali ke kamar dan tidur. Tentunya tidak lupa untuk menyetel alarm supaya dia bisa bangun pagi-pagi sekali besok untuk salah satu hari terbesarnya.

 

–bersambung–


3 comments to...
“Penari–part 3”
Avatar
son

so ariana itu kenapa merintih di pegang damar?padahal udah seru denga rintihan2…hehehhe


Avatar
Je Agam

Keliatan ya fokusnya apa. LOL.


[…] This is the last part of PENARI. […]




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

(Writer’s note: This is the continuation of PENARI-part 1)

Ada sedikit pertentangan di hati Arianna. Bukan tentang apakah dia akan melakukan rencananya. Tapi tentang bagaimana menyakinkan Dasa supaya dia setuju untuk menijinkannya cuti barang sehari sementara itu hanya ada satu hari lagi latihan. Apakah dia harus berusaha meyakinkan Dasa untuk membebaskannya di hari terakhir persiapan atau […]

Previous Entry

This is the last part of PENARI.

Arianna sudah berada di belakang panggung. Tidak seperti biasanya, dia merasa kesadarannya tidak mau berkompromi dengan apa yang dia inginkan. Seolah-olah pikirannya bukan menjadi sapu lidi, tetapi menjadi masing-masing lidi yang tidak terikat. Dan parahnya..,ujung-ujungnya yang tajam saling bermain anggar. Arianna tidak tahu ujung yang mana yang berkuasa. Seolah […]

Next Entry