The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Penari–part 2

February 18th 2012 in a short story

(Writer’s note: This is the continuation of PENARI-part 1)

Ada sedikit pertentangan di hati Arianna. Bukan tentang apakah dia akan melakukan rencananya. Tapi tentang bagaimana menyakinkan Dasa supaya dia setuju untuk menijinkannya cuti barang sehari sementara itu hanya ada satu hari lagi latihan. Apakah dia harus berusaha meyakinkan Dasa untuk membebaskannya di hari terakhir persiapan atau dia kabur saja?

Arianna meraih hape motorollanya dan mencoba mencari kontak temannya yang pernah meceritakannya tentang seseorang.

“Hey. Lo inget lo pernah ngomong soal itu Bapak,..siapa? yang lo komentarin masih muda tapi bisa macem-macem yang nggak bener. Siapa tuh?”

Ada suara di seberang telepon yang menjawab.

“Iya, Damar. Gw..”

Suara itu memotong kalimat Arianna.

“Oia? Greaat. Gua lagi butuh dia. Jadi kalo dia emang pindah ke Jakarta bagus banget tuh. Gw bener-bener butuh dia. Kapa…”

Ada pemotongan kalimat lagi.

“Ntar gw ceritain. Bukan buat gituaaaan. Cakep sih emang. Hahahhahaha.”

Ada yang tertawa juga di telepon. Dan tawanya dilanjutkan dengan beberapa arrangement untuk rendevous.

“Harus ya di tempat tertutup? Hahaha. Kurang canggih dong. Hahhahaha.”

Ada kalimat yang kemudian membuat Arianna menjawab:

“Ha? Harus buka-bukaan? Hahahahha. Di shoot sekalian ya, Bu. Hahhahah. Youtuuube. Hahahha. Gelo!”

“Ya uda, gua tunggu ya kabarnya. Moga-moga bisa ntar malem. Urgent soalnya. OK.”

Dan setelah beberapa kalimat perpisahan, telepon pun ditutup. Dan Arianna mulai berdoa. Entah bagaimana, Arianna merasa berdoa tidak ada hubungannya dengan apa yang dia lakukan. Toh dia akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan agama.

Arianna kembali ke kelompok penari. Beberapa dari mereka sedang berusaha menenangkan penari yang menangis tadi. Beberapa lainnya (yang ternyata lebih banyak) sedang berlatih kembali. Arianna bisa melihat betapa kompetitifnya mereka untuk show kali ini. Atau mungkin sebenarnya semua ini mereka lakukan untuk Dasa? Arianna nyengir atas kenyataan bahwa dia melakukannya untuk kedua hal tersebut.

Tas yang dibawanya dari kos ditarik sekenanya oleh Arianna. Dia menuju ke kamar mandi. Dia merapikan diri dan kemudian pulang. Dia merasa butuh untuk istirahat guna mempersiapkan fisiknya untuk malam ini. Sebenarnya dia tidak tahu pasti apa saja yang harus dia lakukan. Tapi dia berpikir apapun itu pasti membutuhkan stamina yang lain. Dia sudah membayangkan akan ada sesuatu yang memasuki tubuhnya.

Beberapa jam setelahnya Arianna sedang merebahkan diri di kamar kosnya di bilangan Pejompongan. Dia sedang melihat hapenya dan membaca pesan terakhir dari temannya.

“Jm 7 d kos lo.”

Dan lalu balasannya:

“Ok.”

Dan lalu Arianna ingin sekali merubah keputusannya dan lalu dia sadar akan terlambatnya itu dan lalu dia memutuskan untuk tidur.

……………………………..

 

Setengah jam sebelum waktu pertemuan, Arianna sudah bangun dan sudah menata diri. Dan ketika dia selesai memoles dirinya, ada telepon dari temannya yang mengatkan padanya dia dan laki-laki yang akan ditemuinya sudah ada di depan kosnya. Jantung Arianna berdegup lebih kencang dan segera keluar untuk menyambut mereka…tentu saja setelah menyempatkan diri untuk melihat sekali lagi ke cermin yang mengatakan padanya bahwa dia sudah cantik.

Detak jantung Arianna tambah lebih cepat ketika dari balik pintu dia melihat Damar—laki-laki yang akan menolongnya. Sesaat Arianna lupa akan Dasa.

“Haloooo.. pak kabar, Buuu?” Tanya Ninit, teman Arianna.

“Baiiik. Lo pa kabar?”

“Baiiiik.” Ninit mengulang kata itu dengan nada yang sama sembari menempelkan pipi kanan dan kirinya ke Arianna.

“Kenalin ini Damar.”

Dan Damar yang dari tadi berdiri dengan senyumnya yang hebat maju ke depan dan menyalami Arianna.

“Damar.”

“Arianna.”

Lalu Damar memandang ke Ninit dan berkata:

“Yakin ini temen lo yang butuh di tolong? Apa sih yang kurang dari dia?”

“Doooh, ini bisnis dulu ya. Belum yang personal.” Jawab Ninit yang disambut dengan tawa ketiganya.

Dan Arianna adalah wanita cantik yang punya segalanya dalam fisiknya dan dia dipuji oleh laki-laki tinggi besar, tampan, bermata tajam, berkumis tipis dan berhidung mancung. Damar sangat rapi dan jauh dari kesan apa yang dia lakukan biasanya. Damar tampak sperti seorang laki-laki yang akan mengajak wanita di depannya untuk makan malam dan menjajikannya masa depan dan dia memuji Arianna???

Lalu mereka masuk dan duduk di ruang tamu sebentar. Selain mereka bertiga, ada juga basa-basi yang hadir disana selama sepuluh menit. Ninit menceritakan dimana saja dia selama ini. Damar dan Arianna sibuk saling curi pandang.

Ketika ada kekosongan percakapan, Ninit mengusulkan untuk langsung ke urusan bisnis. Dan dia juga mengusulkan masuk saja ke kamar Arianna.

“Gua tunggu disini aja ya. Asbak dong, Bu. Gakpapa kan ngerokok disini?”

“Gakpapa. Bentar ya gua ambilin asbaknya. Gua simpen di kamar gua. Damar masuk aja dulu. Yuk.”

Arianna berdiri dan memberi tanda agar Damar mengikutinya. Namun tampaknya Damar mempunyai interpretasi lebih jauh. Dia menggandeng tangan Arianna!

“Bentar ya.” Kata Arianna ketika sudah di dalam kamarnya dan mengambil asbak untuk Ninit lalu keluar. Damar hanya mengangguk.

“Duuuh, uda gandengan tangaaaan.” Bisik Ninit dengan tawa kecil keduanya.

“Iyaaa gua sampe bingung.” Jawab Arianna. Sembari menyerahkan asbaknya Arianna menambahkan “Dah ni lo gandeng asbak dulu.”

“Sialan.”

Arianna kembali ke kamarnya. Dia menutup pintu lalu berdiri canggung di depan Damar.

“Kecil ya kamarnya.” Komentar Arianna.

“Tapi kan yang tinggal disini gede banget semangatnya.” Rayu Damar. “Duduk sini deh.” Tambahnya.

“Iya.” Saut Arianna. Arianna berpikir kalau dia langsung membuka masalahnya, dia tidak akan merasa canggung lebih lama.

“Jadi gini ceritanya. Gua kan…”

“Gua udah tau.” Potong Damar.

“Oh,..iya Ninit ya.”

“Bukan. Tadi gua pegang tangan lo. Gua udah tau kok. Ok, mau langsung aja?”

Arianna salah langkah. Ini seua justru membuatnya lebih canggung dari sebelumnya.

“Mmm boleh.”

“OK, penari kan ya? Biasanya titiknya pentinya dimana? Mata?”

“I..iya.”

“OK. Tatap mata gua sekarang. Santai aja.”

Arianna yang sekarang duduk di smaping Damar yang tampan sampai keujung dunia sangatlah gugup. Kedua perintah yang dia terima untuk menatap matanya dan untuk santai saja bukanlah dua hal yang bisa dilakukannya secara bersamaan. Namun dia tetap mencoba.

Arianna mencoba berdehem membersihkan tenggorokannya dan lalu mengibaskan rambut sedikit sebagai tanda dia siap untuk menatap mata Damar. Dan ketika dia mulai melakukannya, dia langsung merasa sangat telanjang!




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Acara besar itu hanya dua hari lagi. Semua orang yang terlibat di dalamnya sudah semakin sibuk. Yang mempersiapkan alat-alat dan dekorasi sudah mulai mendapatkan pesanan mereka. Yang mengurusi makanan sudah memulai dulu untuk resep-resep yang harus melewati semalam dalam panci. Yang dulu menyebar undangan sudah mulai merancang tempat duduk untuk para orang yang akan datang. […]

Previous Entry

Penari–part 1

Penari–part 2

Damar dan Arianna seolah duduk berdampingan melihat kilatan adegan-adegan yang tiba-tiba muncul di depan mata mereka:

Arianna sedang berada di ruang latihan. Arianna berkeringat dan badannya merasa kelelahan tingkat tinggi. Tetapi hatinya seolah berkata ‘Terus! Terus!’

Arianna menyeka keringatnya. Badannya meliuk lagi. Sekilas dia bersenggolan dengan penari lain. Badannya terguncang dan limbung. Dia terjatuh. Dan […]

Next Entry