The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Penari–part 1

February 4th 2012 in a short story

Acara besar itu hanya dua hari lagi. Semua orang yang terlibat di dalamnya sudah semakin sibuk. Yang mempersiapkan alat-alat dan dekorasi sudah mulai mendapatkan pesanan mereka. Yang mengurusi makanan sudah memulai dulu untuk resep-resep yang harus melewati semalam dalam panci. Yang dulu menyebar undangan sudah mulai merancang tempat duduk untuk para orang yang akan datang. Yang mengurusi acara sudah melakukan berbagai konfirmasi agar tidak batal. Yang mengurusi tari sudah mulai berteriak-teriak ke semua wanita yang terlibat didalamnya. Dan para penarinya sendiri sudah sangat menginginkan acaranya selesai. Show pribadi pesanan pembesar Brunei yang akan dilakukan di Grand Hyatt Jakarta membuat hidup orang banyak berhenti untuk fokus didalamnya.

Adalah Arianna yang lebih fokus dari para penari lainnya. Ada beberapa alasan kenapa Arianna menjadi seperti itu. Tetapi dari semua alasan-alasan tersebut, hanya satu yang paling penting untuknya. Dia harus memberi kesan sempurna kepada sang pengarah tarinya—laki-laki yang dia ingin untuk ada di masa depannya—Dasa.

Semuanya tentang Dasa membuat Arianna berpikir keras. Kelakuan Dasa yang bisa sangat “melayani”nya. Mulai dari handuk ketika Arianna berkeringat walaupun hanya sedikit—dan itupun tidak Dasa serahkan langsung ke Arianna. Dia hanya menyuruh salah satu bawahannya.

Kenapa?

Dasa akan menatap tajam dan dalam kepada wanita yang diajaknya bicara. Mungkin karena alisnya yang bagus membingkai matanya. Atau karena komentarnya yang sangat pendek terhadap apapun yang lawan bicaranya ceritakan?

Kenapa?

Arianna tidak tahu apa yang membuat itu menarik. Yang dia tahu hanyalah dia benar-benar tidak mau tau apa yang membuat cara memandang atau cara berkomentar Dasa sangat menarik. Karena dia yakin begitu dia bisa menjelaskan ketertarikannya ke Dasa, laki-laki itu tidak lagi menjadi sebuah misteri.

Dan apa serunya semua itu?

Dasa adalah pengarah tari yang profesional. Dia akan meliuk-liuk secara kontemporer untuk menyatukan tubuhnya dengan kombinasi musik jawa dan modern. Dan lalu apa setelah itu? Dia akan berhenti dan berdiri tegap. Dia akan melepas kaosnya dan membiarkan tubuh langsing laki-lakinya terbebas dari keringat. Dia akan keluar. Angin akan membantunya melakukan semua itu. Angin memang akan membuatnya susah untuk sedikit memiringkan kepalanya sementara jari-jarinya menutupi api yang akan membakar rokoknya. Dan dia akan sedikit menyipitkan matanya melihat ke bagian belakang tubuh penari yang Arianna yakin sengaja lewat di depannya dengan pelan. Pernah Arianna mendengarnya berkomentar tentang salah satu penari yang mencoba mencuri lirikan mata Dasa:

“God…artist!”

Dasa tidak perlu mendeskripsikan nafsunya tentang bongkahan yang dimiliki sang penari. Dan cara itu menurut Arianna sangat seksi.

Namun di lain waktu ketika Dasa mengarahkan para penari untuk beraksi, dia bisa sangat kasar. Kalimatnya tajam tak bernada. Datar..menusuk.

“Barusan itu performance topeng monyet?”

“Lagi aerobic? Cepet banget.”

“Lo ditonton, bukan nonton. Matanya nggak usah cari mangsa om-om gitu.”

Merendahkan! Itulah yang Arianna pikir tentang komentar-komentar Dasa. Tetapi apapun pendapat Arianna, para penari jebolan arahan Dasa selalu menjadi hebat! Dan apakah Dasa akan kemudian memuji-muji penarinya setelah acara?

Salah satu penari sempat berusaha mendapatkan apa yang dia maui dari Dasa.

“Gimana tadi tarian gw?”

“Uda kelar kan?” Dan lalu Dasa akan pergi meninggalkan penari itu begitu saja.

Arianna akan sangat mau untuk membedah otak dan hati Dasa dan melihat apa sebenarnya yang ada disana. Apakah hanya ada kalimat-kalimat itu atau sebenarnya Dasa peduli terhadap para penarinya? Arianna tidak mempunyai waktu untuk itu sekarang ini. Saat ini dia sedang di ruang latihan dengan tujuh orang penari lainnya dan Dasa yang berjalan memutar ruangan dengan kedua tangan di pinggangnya. Dan sambil berpose seperti itu, dia memberikan komentar berteriak-teriak melawan musik yang sedang berputar.

“Ini bukan ronggeng!”

“Belum waktunya mainin pinggul. Uda nggak sabar jualan?”

“Nah, sekarang. Sekarang. Goyang. Kurang! Kurang! Stooop!”

Musik berhenti oleh tangan bawahan Dasa. Semua penari hanya berdiri di tempat. Ada satu yang menyeka keringatnya. Dan hal itu tertangkap oleh mata Dasa.

“Keringetan?” Tanyanya berdiri tepat di depan sang penari. Dia hanya bisa mengangguk. Untuk sesaat dia tampak merasa dipedulikan. Namun dengan segera harapan-harapannya pudar dengan komentar Dasa yang datar.

“Elo keringetan karena lo ngayuh pedal becak, bukan nari.”

Dia hanya bisa menunduk.

“Tadi kan harusnya slow. Pas kenceng lo malah kayak abis tenaga abis ngeluarin bayi haram lo.”

Penari itu menangis terduduk di tempat dia berdiri tadi.

Dasa mengambil posisi di depan tengah ruangan.

“Gua mau ngomong sekali ini aja. Semuanya gw harap dengerin gw. Yang nangis diem dulu.”

Dengan sekejap si penari yang menangis tadi menyeka air matanya.

Dasa segera memulai pidatonya yang tampaknya hanya terdiri dari dua kalimat:

“Gw mau lo lo pada latihan lagi langsung abis ini. Gua nggak bakal komentar. Tapi kalo satu kali lagi,” dia berhenti dan menyapu pandangan ke semua penari.”Satu kali lagi lo lo ada yang salah, gua bubarin latian hari ini.”

Itu saja pidatonya. Dia memberi aba-aba ke bawahannya yang segera memutar musik. Para penari buru-buru menempatkan diri di posisi awal tarian dan segera mulai bergerak kesana kemari.

Satu menit kemudian Dasa melihat ke arah bawahannya dan menyuruhnya mematikan musik. Tanpa menunggu musik mati, Dasa bergerak mengambil tasnya dan keluar menuju mobilnya meninggalkan tiga penari menangis dan yang lainnya termenganga.

Semua orang yang ada di ruangan itu terhenyak. Arianna tidak. Tekadnya bulat sekali untuk berhasil dalam hal ini. Dan saking bulatnya, keputusannya itu membuat dia akan mengambil sebuah resiko yang sebelumnya tidak akan pernah dia ambil.

 

–bersambung–


9 comments to...
“Penari–part 1”
Avatar
Daff

Great flow.
*deg degan nunggu bagian selanjutnya*


Avatar
Je Agam

Gw aj deg-degan mau nulis apa. LOL.


Avatar
Renotxa

Upreki jupi..


[…] (Writer’s note: This is the continuation of PENARI-part 1) […]


Avatar
Je Agam

Silakan buu. Bantuin ya. Looohh…


[…] Penari–part 1 […]


Avatar
Obyektif Cyber Magazine

Orang yang mau sukses memang harus berani mengambil resiko. Trims infonya. Kisah para penari ini memang bisa menginspirasi. Salam kenal ya, numpang lewat, kalau sempat kunjungi balik ke website-ku ya?

Salam kompak:
Obyektif Cyber Magazine
(obyektif.com)


Avatar
Je Agam

Thank you for visiting :).


I -cannot -tell -a -lie, -that -really -helped.




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

The best thing about a blog is like you have this incredible storage where you could come and go to your heart’s content. You can write weird things without being too caring about others. You can just tell them

“This is my goddamn blog and there’s nothing you can do about it!”

By saying that, I can […]

Previous Entry

(Writer’s note: This is the continuation of PENARI-part 1)

Ada sedikit pertentangan di hati Arianna. Bukan tentang apakah dia akan melakukan rencananya. Tapi tentang bagaimana menyakinkan Dasa supaya dia setuju untuk menijinkannya cuti barang sehari sementara itu hanya ada satu hari lagi latihan. Apakah dia harus berusaha meyakinkan Dasa untuk membebaskannya di hari terakhir persiapan atau […]

Next Entry