The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Learning How to Draw

October 26th 2011 in my days

Mmmm kalo gw ditanya apa skill yang gw pingin punyain, gw biasanya ngejawab kalo gw pingiiin banget bisa ngegambar. Tapi apa gw bisa ngegambar? Gw inget banget di suatu saat di dalam idup gw, gw ngegambar kuda di depan anak2 kecil. Dan salah satu dari mereka bilang yg intinya:

“Sini gw aj yg ngebantuin lo ngegambar sapi!”

Mmmm ini anak perlu ditingkatkan peri kehewanannya ato gw ya yg perlu lebih memahami struktur anatomi hewan dalam bentuk dua dimensi. Yg jelas, gw seneng gambar untuk tujuan-tujuan tertentu tanpa merasa punya skill untuk itu. Yang penting bisa kebaca lah maksudnya apa.

Tapiiiiii pagi ini gw dapet kesempatan untuk ikutan in-house workshop yang ngebahas cara ngegambar. Wuhuuuuuu…. Duduk dong gw paling dpan mendengarkan dengan spidol biru menantang. Spidol??? Latihan gambar pake spidol???

Mmmmm gw pertamanya berpikiran hal yang sama kayak elo2 pada. Apa jumlah pinsil di dunia ini uda menipis? G juga. Si trainer bluntly bilang kalo orang2 biasanya ngegambar pake pinsil lah, sendok lah, garpu lah,…semua itu alesannya karena mereka ragu2. Di workshop ini dia akan menunjukkan kepada diri kita sendiri kalo kita2 tuh bisa ngegambar. Percaya aj deh ya gw.

Instruksi pertama

”Penuhilah kertas kosong di depan anda dengan garis lurus.”

Je: Bisa g langsung ke intruksi kedua? Ya Allah, gw tuh nggak bisa loh bikin garis lurus. Kalo pas miting2 aja, kalo agak penting gt, gw mesti mencubit2 genit2 temen2 gw2 buat bikinin gw beberapa garis lurus yang akan membentuk sebuah tabel. Baruuuu gw isiin dengan kreasi gw. Tapi pagi ini gw dipaksa bikin garis lurus. Yo wis,…nurut. Anw, di tengah2 kita meluruskan diri itu, si trainer dengan sifat keibuan jahilnya memberi masukan2 psikologis kayak:

“Bebasin aj spidolnya. Jangan takut bikin garis lurus. Lakukan dengan bahagia.”

Je:  Mmmmmppphhhh

Instruksi kedua

“Sekarang, ambil kertas kosong yang lain. Penuhilah dengan garis2 lengkung tanpa putus. Bebaskan perasaan anda.”

Je: OK, lengkung lebih baik daripada lurus. Dan melengkung2lah badan spidol gw. OK. OK.

Di tengah2 perjalanan ini, gw mulai bertanya apa tujuannya? Dan nyletuklah gw:

Je: Kapan coffee breaknya? Dan apa tujuan dari semua ini?

Si trainer berkata dengan bijaksananya:

“G ada coffee break, budget training ketat. Tujuannya adalah untuk melemaskan otot2 jari2 anda. Lanjut, Pak?”

Je: Hooh.

Instruksi ketiga

Trainer: Sekarang coba bentuk seperti rumput2 kartun.

Je: Yippiiieeee kartuuuun, element gw banget.

Dan berhasilah gw.

Instruksi berikutnya

Instruksi berikutnya

Instruksi berikutnya

Trainer: Sudah penuh kertasnya? OK. Sekarang ambil kertas bekas lagi dan kita mulai menggambar wajah manusia.

Nah, mulai neh. Meliuk2 lah jari2 gw ngalahin DP, JuPe, KaPe, TePe. Jadi dikit2.

Training itu dilanjutkan dengan munculnya wajah2 hasil puter2an spidol para peserta.

Sampai di babak kedua, gw belum ngeliat perkembangan gw. Dan moment terakhir pun tiba. Kita disuru ngegambar kartun dengan emosi bahagia sebahagianya kita. Kita dianjurkan untuk menggunakan memory terbahagia kita.

I had one. It was about the time I spent with you.

Daaaan…jadilah gambar gw. Setelah itu ada acara nominasi gambar terbaik. I was soooooo cloooose to be number two out of 17 participants. Dan saat itulah gw sadar,…semua coretan2 spidol di intruksi pertama sampai ke tujuh puluh sembilan seperempat tadi benar2 berguna. Jari2 gw lebih rileks. Garis2 yang gw bikin lebih tegas. Iniiiiii gambar guaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa:

 


6 comments to...
“Learning How to Draw”
Avatar
daff

enak ya kalo ijo terus. ngga kena tuh kaki ke pedal rem. 😀


Avatar
Je Agam

Ijo is the color of free will–menurut Green Lantern, looh. Hehehehehe.


Avatar
mariskova

Jadi, momen bahagia elo itu pas jadi pengamen di jalan ya, Je? *serius nanya abis liat gambar*


Avatar
Je Agam

Mariskova,…kenapa sih harus di stated bluntly gitu? LOL.


Avatar
Aeon

nice draw


Avatar
Je Agam

:).




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Warning: Do NOT read this if you are faint-hearted.

 

Perut buncit Wawan membuatku mengantuk. Aku sudah tidak tidur selama dua puluh empat jam penuh menunggunya keluar ruang interogasi. Ketika dia muncul, rasa kantukku bukannya berkurang malahan bertambah.

“Uda ngaku dia?”

“Sabar dulu, lah. Gua ambil kopi dulu, ya. Kita ngobrol diluar. Uda asem mulut gua.”

Itu artinya dia mengharapkan […]

Previous Entry

I came into the building. It was shabby. It was dingy. It was impure. It was north pole to south of its name–Body Partition Premium Store. Well, what choice do I have? The real premium kind of store costs me much more than this one.

So I literally dragged myself in. The bells chimed in–although I had […]

Next Entry