The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Khatib yang aneh

October 23rd 2011 in my days

Know wat, jaman dulu gw masih belum tanda tangan kontrak kerja ama Universal Studios, gw sempat punya impian bikin satu label postingan di blog soal hal2 yang khotib2 solat jumat ceramahin. But after the contract, ya udah, another dream shattered deh. Tapiiii,… (berhenti dulu untuk efek dramatis) Jumat kemaren bener2 kayak kelopak mata gw tuh di stretch lebar2 kayak operasi mata and gw bisa ngeliaaaaaaaat bahwa mimpi gw untuk bikin label itu harusnya tetep idup. Dan akhirnyaaaaaa …(berhenti lagi–bukan biar dramatis tp ngupil dikit2) tetep gagal juga. G gw bikin juga itu label. Tapi,…..(bentar, ada telp), gw mau nulis satu tulisan tentang khotbah last Friday.

 

Gw ngerokok dulu dong sebelum ke mesjid buat solat jumatnya. Maksud gw daripada nt pas solat gw kepikir ngerokok. Dan setelah nulis kalimat ini gw kok takut tulisan ini g jadi tentang si khotob tp malah ganti soal ngerokok. Uda, bubar! Anw,…telat dong gw waktu masuk masjid. Definisi telat adalah ketika Khotibnya uda khotbah sampe di alinea kedua puluh. Ya Allaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh,……disertasi!!!

Pas gw jalan masuk tempat wudhu neh, si Khotib yang suaranya asliii kenceng banget (baru beberapa menit gw sadar kalo dia pake mic. Daaaang) ngomong yang intinya dia ditilang polisi pas mau khotbah kesini. Dia nanya salahnya apa. Dijelasin salahnya apa. Dan dia nanya bisa dimaafkan g? Kan dia khotib.

Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattttttttttttttt!!!

Guru boleh juga pak?

Artis artis?

Tukang jahit?

Tukang becak? (Tukang becak kan g naek motor, Je. Dan Je menunduk malu bersemu2 pipinya warna ungu karena abis dia pukulin sendiri.)

Lanjut neeeh,…

Pol: Nggak bisa, Pak.

Khot: Pilihannya apa, Pak?

Pol: A. Pengadilan

B. Tilang

Khot: Tilang berapa, Pak?

Je: (Moga2 lo cuma ngetes ya, Pak)

Pol: 50.000

(Je: Tes lulus, Pak?)

Khot: Pak, ini dompet saya. Duit saya cuman 50.000

(Je: Anak2 kecil, kalo gede jangan jadi khotib ya. Cari kerjaan yang duitnya lebih banyak. LOL)

Khot: Kalo saya kasi bapak kan saya nggak punya duit lagi.

(Je: Mmmm kayak sinetron Indonesia yang mengiba2.)

Pol: Ya nanti saya kasi kembalian.

(Je: Wah, pak Khot, tesnya berhasil. Acting Bapak benar2 bisa menjebak si pol).

Khot: Ya udah, pak.

(Je: No no,…jangan, pak. Jangan dikasiiiii.)

Khot: Kembali berapa pak?

(Je: Tidaaaaaaaaaaak,… Je berusaha memergoki keduanya. Dia menubruk kedua tangan mereka yang dipisahkan oleh udara dan uang berwarna ungu. Namun kedua tangan itu melewati tubuhnya yang ada di dimensi berbeda. Hanya ada asap dari partikel tiga dimensi Je yang menghiasi berpindahnya uang 50.000 dari pak Khot ke pak Pol. Dan ketika Je berbalik, ada uang berwarna hijau berpindah dari tangan pak Pol ke pak Khot. Je hanya menangis dalam bentuk partikel embun yang keluar dari matanya. Kedua laki-laki itu tidak bisa melihat Je.)

Setting cerita kembali ke tempat wudhu.

Khot: Jadi seperti itulaaaah wajah polisi kita sekarang, para jemaat Jumat!!!

(Je: Jadi seperti itulaaaah wajah khotib kita sekarang, para jemaat Jumat!!! Dan Je memutuskan untuk tidak mendengarkan lagi ocehan pak Khot yang tidak bermutu itu–a time wasted waiting for the Solat Jumat.)

 

PS: I guess the best solution is not breaking the law since the beginning.

 

 


2 comments to...
“Khatib yang aneh”
Avatar
Renotxa

Lha…. :))

Ini yang isi postingan ditulis Om Je apa si kacrut(www.dikacrutin.com) sih? :))

btw, apa bapak khotiib mengevaluasi kesalahannya?


Avatar
Je Agam

Kagaaak ada evaluasi diri. Dia cuma fokus evaluasi polisinya. Balik kanan bubar jalan dah pokoknya.




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Gw mau nulis ini aj uda ketawa bawaannya. Jadi gini, suatu saat neh temen2 gw pada ngumpul dan ada satu jiwa yangtersesat bikin komentar yang kata temen2 itu komentar alay. Eee ada yang ngejadiin itu headline news dan me-list down beberapa ciri2 alay:

1. Kalo komen di facebook, huruf “k” diganti “q” and banyak “h” nya.

Q […]

Previous Entry

Warning: Do NOT read this if you are faint-hearted.

 

Perut buncit Wawan membuatku mengantuk. Aku sudah tidak tidur selama dua puluh empat jam penuh menunggunya keluar ruang interogasi. Ketika dia muncul, rasa kantukku bukannya berkurang malahan bertambah.

“Uda ngaku dia?”

“Sabar dulu, lah. Gua ambil kopi dulu, ya. Kita ngobrol diluar. Uda asem mulut gua.”

Itu artinya dia mengharapkan […]

Next Entry