The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Busy

October 8th 2011 in a short story

Arman sedang duduk di kursi goyangnya. Mungkin usia tempat duduk itu setengah dari usianya yang sekarang mencapai angka 40. Anehnya, walaupun sudah ada lama, mungkin baru sekitar tiga tahunan ini kursi itu melihat dunia luar. Dulu dia selalu berada di dalam ruang tamu, namun sekarang dia berada di teras bagian belakang rumah Arman yang bernuansa pedesaan walaupun sebenarnya rumah itu berdiri tegak di daerah mahal—Sentul.

Di pagi hari seperti ini, kursi itu bergerak maju mundur membawa Arman dalam keadaan sangat damai. Hijau rumput adalah yang ada di matanya. Kelinci-kelinci putih berloncatan kesana kemari seolah dibayar Arman untuk menghiburnya. Hidung mereka pesek. Bulu mereka lebat. Ekor mereka pendek. Dan tentu saja telinga adalah bagian tubuh mereka yang paling mencolok.

Ada juga beberapa burung yang menjadiakn pohon besar di sebelah kanan pandangan mata Arman sebagai rumahnya. Tadi saat dia pertama kali keluar, burung itu menjadi perhatiannya. Namun lalu sudut pandang matanya berubah kearah kelinci-kelinci itu. Sayangnya lagi, mereka seolah dikomando oleh alam untuk berlarian kebawah pohon tempat tinggal para burung. Dan Arman tidak mau repot-repot mengarahkan pandangannya mengejar kelincahan para kelinci. Dia memilih untuk tersenyum di pikirannya mengucapkan selamat tinggal kepada hewan-hewan lucu itu.

Lalu apa sekarang? Apa yang bisa Arman lakukan? Banyak! Dia berpikir tentang rencana-rencana yang akan dilakukannya sebulan dari hari ini. Dipikirannya sudah ada banyak sekali. Dan saat itu dia bingung bukan tentang apa yang akan dia lakukan, tetapi apa yang akan dia lakukan pertama kali.

Dia berpikir untuk berlatih mengendarai mobil jeepnya yang terpakir di sisi kanan halaman rumput seluas samudra itu. Dia berusaha untuk mengingat-ingat apa yang pernah diajarkan bapaknya beberapa tahun dulu tentang bagaimana mengendarai mobil. Suara bapaknya yang dalam seperti penyiar radio tengah malam itu seolah kembali di pikirannya dan membuat Arman yakin bahwa itulah yang harus dia lakukan pertama kali.

Baiklah. Lalu apa? Tentu saja melihat istalnya yang dipenuhi kuda-kuda jantan dan sehat. Aduuh, sudah lama sekali dia tidak berjumpa dengan Martin—kuda favoritnya. Masih segar di ingatannya Susan yang marah-marah karena dipaksa Arman menaiki Martin dan Martin marah sampai Susan berlari dengan berteriak-teriak ketakutan. Mengingat adegan itu sekarang, Arman tertawa dalam hati sampai air matanya menetes.

Susan,…dimana dia sekarang? Sudah punya anak berapa dia? Arman memutuskan untuk mengunjungi Susan setelah ke istalnya sebulan dari sekarang. Aneh memang percintaan Arman. Dia tidak pernah bisa berteman dengan para mantan kekasihnya kecuali Susan. Walaupun buat Arman itu berarti Susanlah satu-satunya mantan yang Arman cintai namun dengan tidak sepenuh hati sehingga gampang sekali Arman memutuskan hubungan dengannya.

Hal itu sangat beda sekali dengan Mel. Dia mencintai Mel sampai dia pernah berpikir bahwa mungkin hatinya lebih dari satu dan semuanya diberikannya kepada Mel. Begitu juga dengan ketidakpeduliannya terhadap pendapat teman-temannya yang tidak setuju dengan hubungan mereka. Sudah berapa teman yang Arman tidak mau hubungi lagi karena mereka tidak suka Mel?

Apa yang tidak seorang laki-laki seperti Arman sukai dari Mel? Mel berbeda. Walaupun setelah Mel datang banyak sekali gadis-gadis manja sesuai keinginan Arman, Arman tidak pernah keberatan dengan pemikiran dewasa Mel. Teman-temannya yang mengatakan kepada Arman bahwa Mel tidak bisa membuat dia sering tertawa ketika bersama Mel tidak digubrisnya. Menurutnya dia masih bisa tertawa jika bersama Mel. Memang tidak di depan teman-temannya. Mel memang keberatan apabila harus terlalu sering menghabiskan waktu berdua dengan Arman namun disertai teman-temannya. Maka oleh karena itulah saat itu Arman mulai dijauhi teman-temannya.

Arman mengingat-ingat apa yang Mel suka. Tentu saja buah pisang. Tentu saja berpetualang—Mel menggunakan istilah “menjadi bagian dari alam semesta” untuk hobinya yang satu ini. Tentu saja musik Jazz—yang ini Arman tidak bisa begitu menikmatinya tetapi cukup menghargai kesukaan Mel. Toleransi terbesar Arman adalah ketika Mel mengajaknya berkaraoke. Sungguh Arman mencitai Mel tetapi berpendapat bahwa Mel lebih baik mendengar lagu-lagu kesukaannya saja ketimbang bernyanyi. Atau menonton film saja. Arman ingat sekali cara duduk Mel di dalam bioskop. Dia juga ingat cara mata Mel tertuju tajam ke layar tanpa deviasi sedikitpun ke arah Arman. Untung saja hanya matanya. Tangannya tidak begitu karena digenggam Arman sepanjang film. Dan bagaimana diskusi detail setelah film usai di jalan pulang? Itu yang sering membuat Arman kagum. Namun Arman mengacaukan semuanya karena mengejar mimpi indahnya berkilo-kilometer jauhnya dari Mel.

Susah sekali untuk mengakhiri pembahasan tetang Mel namun Arman tahu pagi ini dia harus benar-benar mereencanakan semua hal yang akan dilakukannya bulan depan.

Baiklah,..daftar selanjutnya. Mungkin Arman akan menapak tilas sejarah hubungannya dengan Almarhum Ayahandanya. Berarti dengan Jeepnya dia harus menuju ke arah Bogor tempat bersemayam Ayahnya. Yup.

Daftar kegiatan Arman terganggu oleh anak gadisnya yang berdehem di depan pintu belakang rumah. Arman meutuskan untuk tidak repot-repot menoleh.

“Ayah, ada tamu nih.” Katanya. Lalu dia dan tamunya mendekat dan berbasa-basi yang tidak perlu. Arman diam. Dia tidak begitu tertarik menanggapi keduanya. Dan setelah beberapa kegiatan yang dilakukan oleh sang tamu, dia dan anak Arman kembali ke dalam rumah.

Arman tidak suka dengan kenyataan bahwa merka berdua tidak cukup peduli dengan perasaanya. Mereka berdua membicarakan Arman di balik pintu. Kenapa mereka tidak mempunyai perasan sedikit lebih banyak dan pindah ke bagian dalam rumah ketika membicarakannya.

Arman merasa sangat terganggu dan akhirnya terpaksa mendengarkan pembicaraan keduanya di tengah-tengah hembusan angin pelan. Yang dia dapatkan hanyalah kalimat terakhir dari anaknya.

Dengan suara lirih anak Arman berkata “Semoga bulan depan Papa sudah siap. Untuk sementara saya harus pergi ke Australia. Saya akan menandatangani surat-surat untuk keperluan operasi Papa dua minggu lagi setelah saya pulang. Saya akan menghubungi dokter nanti.”


10 comments to...
“Busy”
Avatar
Renotxa

Intelupsiiiii…

Arman itu tetangga saya persiiiis.
:)) :))


Avatar
Renotxa

yaiiii…langsung muncuuuuulll…..

(menuhin komen)


Avatar
Renotxa

lagiiiii…………….


Avatar
Renotxa

sehat juga ni jupiter (ngelunjak)


Avatar
Renotxa

Si Icha uda datang lho dari Australia


Avatar
Je Agam

Salam, Bu. Jangan diganggu ya dia. Lg sibuk. LOL


Avatar
Je Agam

Senangnyaaa…


Avatar
Je Agam

Dibales juga kok. LOL LOL LOL


Avatar
Je Agam

Kakakakakakakakakkakakak.


Avatar
Je Agam

Haaa?? Masaaak? Langsuuung ke malaaang. LOL




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Rio ingin sekali menabrakkan kepalanya kedinding biar pecah sehingga dia tahu sekali apa yang ada disana yang menghalangi lancarnya imajinasi yang biasanya meluncur cepat. Terkadang Rio seperti sudah menenggak minuman keras dan seakan yakin dia benar-benar akan menubrukkan bagian tubuhnya yang satu itu. Dia sangat lelah. Tiba-tiba saja kakinya yang tegap serasa tidak kuat untuk […]

Previous Entry

Kita2 uda hidup lumayan lama kan? Walaupun pengalaman2 kita beda2. Nah, gini2,..suatu hari gw kayak ketemu Gundala and disamber-samber gitu deeee and mikir tentang kalimat2 yang pernah gw katakan ke orang. Banyak dooong. Akhirnya gw milih kalimat2 yg g pernah gw omongin ke orang. Ini adalah dua dari beribu2 kalimat yg gw sendiri belum kepikir.

1. […]

Next Entry