The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Buruk…Baik

September 24th 2011 in a short story

Rio ingin sekali menabrakkan kepalanya kedinding biar pecah sehingga dia tahu sekali apa yang ada disana yang menghalangi lancarnya imajinasi yang biasanya meluncur cepat. Terkadang Rio seperti sudah menenggak minuman keras dan seakan yakin dia benar-benar akan menubrukkan bagian tubuhnya yang satu itu. Dia sangat lelah. Tiba-tiba saja kakinya yang tegap serasa tidak kuat untuk menopang badannya. Rio yang tadi berdiri miring terhuyung-huyung sekejap dan badannya jatuh ke sofa empuk merah marun. Kakinya menendang sesuatu yang lemudia menggelinding dan berhenti ketika bertemu dengan dinding tembok lalu mengeluarkan suara seperti kaca pecah. Rio berusaha melawan gravitasi di atas matanya dan sempat melihat bahwa dia mungkin memang benar-benar mabuk karena minuman keras. Lalu dia menutup matanya. Pusing.

 

Rio tersadar diantara monyet-monyet bergerigi tajam yang bergelantungan di rambutnya. Mereka berayun dari helai yang satu ke helai yang lain sambil mengeluarkan bunyi-bunyian yang memekakkan telinganya. Dia ingin semua ini berhenti. Dia pejamkan matanya lagi.

Ketika dia membukanya, dia melihat dua orang laki-laki bertelanjang dada dengan otot asteroid sedang membawa kapak besar dan mengayunkannya dengan sekuat tenaga. Rio berteriak dan menutupi kepalanya. Secara refleks matanya juga tertutup.

Rio terjaga lagi. Kepalanya masih terasa berat. Tetapi dia merasakan hal yang berbeda. Matanya mencoba mengetahui apa yang ada di atas kepalanya. Dan itu adalah mahkota! Rio mengerjap-ngerjapkan matanya seolah ingin mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak lah sedang mabuk. Dia berlari ke depan cermin dan melihat mahkota itu sunggung nyata. Warnanya perak menutupi setengah dahinya. Ada tiga lubang di bagian depan terusun horisontal. Lubang itu terisi dengan mutiara yang bersinar. Sinarnya membuat sangat hebat sehingga seolah ketiga lubang itu membentuk suatu garis yang memberi kesan futuristik di mahkota itu. Bagian atas mahkota itu terdiri dari jari-jari berbentuk seperti persegi panjang yang tipis dengan ujung segitiga yang tajam. Jumlahnya ada lima. Yang tengah adalah yang paling panjang dari kelimanya. Keempat yang lain tersebar mengelilingi mahkota itu sampai ke bagian belakangnya.

Rio mengangkat tangan kanannya. Disentuhnyalah mahkota itu. Tepat ketika jari-jarinya sampai di ujung sinar mutiara itu dirasakannya ada sebuah bagian yang timbul. Belum lama dia meraba bagian itu, dua jari-jari di atas mahkota itu turun dengan bunyi seperti logam tergesek. Dan yang paling membuat Rio terkejut adalah kenyataan bahwa dua jari-jari itu tidak hilang namun turun ke bawah dengan lapisan pelindung yang berbahan sama. Tangan kanan Rio menuju ke jari-jari sebelah kanan dan yang kiri ke sebelah kiri. Digenggamnya lapisan yang berukuran lebih tebal itu. Rio bisa merasakan bahwa sebenarnya dia bisa menarik kedua bagian itu dan dilakukannya. Mata Rio terbelalak melihat sepasang pisau tajam di kedua tangannya.

Rio belum pernah seterkejut dan sebingung ini dalam hidupnya. Ini adalah pengalaman pertama untuknya. Dan dia lebih penasaran akan apa lagi yang bisa dilakukan mahkota yang sedang dipakainya saat itu. Dia memutuskan untuk mengembalikan dua pisau itu ke tempatnya dari bagian bawah mahkota. Sempat dia berpikir untuk melepas mahkotanya itu dulu. Tetapi dia berpikir bahwa siapapun yang merancang mahkota itu menyiapkannya untuk dipakai oleh seorang pemimpin dan pendekar yang tidak akan repot-repot melepaskan mahkotanya dulu hanya untuk memasukkan kedua senjata ini.

Dengan sedikit usaha, dicobanya memasukkan pisau sebelah kanan ketempatnya. Hanya dengan sedikit dorongan, pisau itu tertarik masuk sendiri dan seketika Rio melihat bagian ujung mahkotanya kembali. Kemudian dia melanjutkannya dengan memasukkan yang sebelah kiri ke tempatnya. Ketika melakukan itu, tangan kanannya mencoba menahan mahkotanya. Tangannya menyentuh sinar dari mutiara itu. Untuk memberi sedikit dorongan masuk ke tempatnya, telapak tangan kanannya memberi sedikit tekanan ke sinar itu dan sedikit mengusapnya sampai ujung. Ketika pisau itu sudah kembali ke tempatnya, sinar mutiara itu dnegan segera tampak lebih terang dan keluar dari ketiga mutiara itu menuju ke kaca dan memecahkannya.

Dengan sekejap Rio menjauhi kaca dan terpelanting ke sofa merah. Kepalanya masih pusing. Matanya seperti baru saja difoto dengan lima belas kamera yang sangat dekat. Jari tangannya mencoba meraba matanya dan berusaha memeriksa agar semuanya kembali normal. Ketika sudah sedikit lumayan, dia kembali membuka mata. Dan dua hal pertama yang dilihatnya adalah tumpukan kertas gambar dan pensil.

 

Satu tahun setelahnya…

“Saya harus jujur kepada anda dan para pemirsa dirumah. Saya bukan penggemar barang seperti ini.” Penyiar televisi itu menunjukkan hasil karya Rio di tangannya. “Tetapi harus saya akui jalan cerita dan tentunya kualitas gambar anda sangat…real.”

“Terimakasih.” Jawab Rio pendek.

“Saya juga harus jujur bahwa saya membacanya sampai akhir dan sekarang menunggu-nunggu kelanjutannya. Ada kan?”

Rio tertawa lepas.

“Tapi gini-gini, sebelum kemana-mana, saya harus tanya dulu nih karena penasaran. Gimana nih bisa dapet ide tokoh komik jagoan reinkarnasi monyet?”

“Mmm..,” Rio mencoba menjawab pertanyaan itu. “Yang jelas bukan dari film Planet of the Apes ya. Itu yang jelas.”

Keduanya tertawa di depan kamera. Ketika tertawa itu, Rio tahu dia harus memutuskan sesuatu hal yang sudah lama dia pikirkan sejak setuju untuk datang ke talk show ini…

Apakah dia akan jujur kalau dia mendapat inspirasi karena mabuk?


2 comments to...
“Buruk…Baik”
Avatar
tes

tes


Avatar
Je Agam

luluuusss.. makasiiiii…




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Pernah tuh ada orang komentar

“Enak ya jadi elo.”

Dooh, dalam mode tidak sombong (well, maybe dikiiiit banget), gw mikir…”Kagak enak tauuuuuu.”

Berikut adalah hal-hal yang gw sendiri ngerasa g enak:

1. Berat badan gw fluctuates. Kadang kuruuuus(an) kadang gemuuuk(g pake”an”). Repot kan?

2. Paling nggak suka diganggu orang even sekedar ngobrol pas di waktu2 pribadi gw yang kebetulan neh, […]

Previous Entry

Arman sedang duduk di kursi goyangnya. Mungkin usia tempat duduk itu setengah dari usianya yang sekarang mencapai angka 40. Anehnya, walaupun sudah ada lama, mungkin baru sekitar tiga tahunan ini kursi itu melihat dunia luar. Dulu dia selalu berada di dalam ruang tamu, namun sekarang dia berada di teras bagian belakang rumah Arman yang bernuansa […]

Next Entry