The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Semalam di Rumah Sakit (part 6-End)

August 18th 2011 in a short story

Read the previous part…

Tangan kanan Siska menunjuk ke ujung kaki Jimmy. Mata Jimmy berusaha mengikuti arah telunjuk Siska dan berakhir ke satu gigi tepat di ujung kakinya. Jimmy menarik diri dan segera mundur ke arah pintu. Dan disaat itulah dia menubruk dua suster berbaju putih. Nyawanya yang tadi sedikit luntur keluar dari kulit arinya tetap belum kembali. Apalagi karena Jimmy berteriak-teriak seperti pasien yang harusnya berada di bangsal sakit jiwa. Paling tidak dia masih hidup. Paling tidak begitulah kenyatannya.

 

Hari sudah pagi. Teror itu sudah berhenti. Dan Jimmy meyakinkan dirinya bahwa dia sedang tidak berada di sebuah film horor untuk nantinya sebelum keluar Rumah Sakit dia akan menemukan gigi Siska atau apalah lainnya yang menandakan bahwa siksaannya belum berakhir.

Saat ini dia sedang duduk di depan ruang tunggu Rumah Sakit. Dia sedang menunggu kwitansi pembayarannya. Dia tidak termenung. Dia masih kelihatan panik. Siapa sih yang melarang merokok di Rumah Sakit? Lagian kan dia sedang tidak berada di kamar. Dan udara di luar yang akan terkena paru-paru…bukan pasien di dalam kamar. Bukan Siska. Atau sebaiknya Siska? Dan kenapa pengurusan kwitansi ini lama sekali?

Jimmy melirik ke counter wanita penghitung biaya inapnya semalam. Lalu dilihatnya salah satu suster yang semalam merawatnya. Atau tidak merawatnya? Itu karena dia selalu menganggap Jimmy berhalusinasi tentang Siska!

“Halusinasi akut.” Kata suster itu ke wanita dibalik kaca. “Uda beres?”

“Bentar lagi. Oiya, katanya nggak ada keluarganya? Kenapa barusan ada cewek yang ngaku-ngaku kakaknya lagi car-cari dia? Tadi sih pas gua belum tau itu anak duduk disana. Terus kakaknya lagi di toilet deddh kayaknya.”

Jimmy geram dan berusaha melihat wanita di balik kaca itu. Dia berdiri. Dan percakapan dua orang itu berhenti karena melihat dia. Dan dia pun berhenti mempercayai dirinya sendiri saat dia melihat wajah wanita dibalik kaca itu seperti Siska!

“Bentar lagi, Mas. Duduk aja dulu.”

Jimmy bergetar hebat. Apa mereka benar? Apa benar-benar dia adalah seorang penderita halusinasi akut? Seakut apa?”

“Sus, addik saya gimana?”

Dan ketika Jimmy menoleh ke arah wanita yang mengucapkan kalimat itu, dia tahu dia butuh perawatan serius.

Kakaknya kehilangan satu gigi depannya.


6 comments to...
“Semalam di Rumah Sakit (part 6-End)”
Avatar
Renotxa

Jadi intinya…?
Mungkin kehilangan gigi depan adalah hal paling penting dalam kehidupan.

Be strong, Om Je.
ntar bs pake gigi palsu kok. Saya masih mau berteman dengan mu.

(mlayu sing uadoh)


Avatar
Bung Iwan

hmmm…. aku harus kembali men-subscribe blog ini. karena feed-nya juga sudah berubah.


Avatar
anonymous

kapan ngeluarin novel nih???


Avatar
Je Agam

Makasiiii… selamat datang kembali :).


Avatar
Je Agam

Percayalah,..butuh setahun untuk melupakannya…setahun di rumah sakit…


Avatar
Je Agam

Tanya doong, brapa kali ditolak? LOL. Anw,..anynomous neh? :).
Thanks :).




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

 

For the previous part,…click here.

Jimmy mengumpulkan tenaga yang ada untuk membangunkan dirinya sendiri. Dia menopang tubuhnya dengan dua tangannya. Lalu keseimbangannya datang dan dia mulai melepas sandaran tangannya. Mulai bergeserlah dia ke ujung ranjangnya. Kakinya masih menggantung belum menyentuh dinginnya lantai UGD rumah sakit. Dan begitu hal itu kejadian, langsunglah Jimmy menarik kakinya. Namun tekadnya […]

Previous Entry

Blog ini baru. Jadi judulnya gw belilah hosting yang apa2nya diurus oleh Bapak Angkat Gua di Internet. Bapak ini baik banget sampe mau meluangkan waktunya ngecengin para pelayan di McD Salemba untuk ngegerok wi-finya. Bapak Angkat Gua ini cukup baik juga membalas sms gw dua akli menanyakan hal yang sama…password FTP. Please jangan nanya kepanjangannya […]

Next Entry