The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Semalam di Rumah Sakit (Part 4)

August 10th 2011 in a short story

 

Click here for the previous part…

 

Jimmy mendarat di pantatnya dengan teriakan yang lumayan keras. Dan suara itulah yang membuat dua orang berbaju putih segera masuk dari pintu kamar ruangannya dan tampak terkejut.

“Ada apa lagi?” Bukan hanya kata-katanya yang tidak ramah, namun tampang suster yang tadi juga datang membantunya memberi kesan seperti itu juga.

“Siska bangun…Siska bangun.”

Suster yang tadi membantu Jimmy tidak mempedulikan kalimatnya. Yang lainnya berhenti menolong Jimmy dan segera menghampiri tubuh Siska yang masih terbaring. Dia mengecek apalah yang ada di Siska dan kemudian berbalik membantu temannya mengembalikan Jimmy ke ranjangnya. Suster taditampak berbisik sesuatu di telinga suster yang lain. Jimmy tidak sempat mendengar apa yang dibicarakannya. Dia hanya mendengar suster yang di dekatnya mengangguk “Iya.”

“Saya mau pindah. Saya mau pindah.”

“Tidak usah diinta, kami juga akan memindahkan anda. Sebentar.” Jawab si suster dengan ketus.

Jimmy terengah-engah kembali terlentang di ranjangnya. Namun tidak sedikitpun kepalanya beralih dari korden yang menutupi Siska. Tidak pernah. Dia tidak akan membiarkan Siska melakukan apa-apa lagi terhadapnya sampai dia dipindahkan!

Jimmy merasa lututnya sangat lemas disertai linu yang hebat di pantatnya. Belum lagi siku tangan kirinya yang menopang badannya ketika dia jatuh tadi.

Lalu dimana iPhonenya?

Barulah saat ini kepalanya berputar-putar di sekitarnya untuk menemukan iPhonenya. Ditengah-tengah pusing berskala richter tinggi Jimmy berusaha mereka ulang kejadian tadi. Dan semuanya berakhir ke tangan Siska. Dia berusaha memusatkan pandangan ke tangan Siska yang untung saja sedikit terlihat dari tempatnya. Korden pemisah itu pastilah bergerak-gerak setelah di cek oleh suster tadi. Tapi sayang Jimmy tidak melihat tanda-tanda tangan kiri Siska memegang iPhonenya.

Tiba-tiba saja Jimmy merasa sel-sel halus di badannya bangun dan membuatnya ngeri ketika dia kembali berusaha mengingat bagaimana kejadian tadi menimpanya….iPhonenya ditarik oleh tangan Siska!

 

 

Tentu saja Jimmy berpikir untuk menunggu para suster tadi datang dan memindahkannya. Saat itulah Jimmy akan meminta mereka untuk mengambil iPhone yang mungkin ada di tangan kanan Siska. Tapi apa mereka akan mempercayainya?

Atau mungkinkah iPhone tadi jatuh di bawah ranjanganya? Namun Jimmy sudah bertekad tidak akan berusaha melihat bawah ranjangnya hanya untuk menemukan Siska bangun lagi dan lalu apa? Kebodohan lagi? Jimmy tidak mau!

Saat itu Jimmy menyesal kenapa dia menjadi orang yang sangat penyendiri. Seandainya tidak begitu, mungkin ada saja salah satu temannya di dunia ini yang mengirim pesan atau email atau apalah yang akan membuat iPhonenya berbunyi dan dia bisa tahu dimana letak iPhonenya itu. Bahkan saat ini dia menyesal kenapa menjual Blackberrynya. Detik-detik seperti ini broadcast message yang sering membuatnya merasa terganggu akan bisa menyelamatkan nyamawanya. Nyawa? Apakah Siska mempunyai niat untuk mengambil nyawanya? Buat apa?

Jimmy mulai merasa lebih sangat tersiksa akan keadaannya sekarang ini. Apa yang bisa dia lakukan? Apa dia akan benar-benar menunggu suster-suster itu datang dan memindahkannya? Dan apa mereka akan mempercayai Jimmy bahkan hanya untuk mengecek apakah iPhonenya ada di tangan kanan Siska?

Tentu tidak !!!


One comment to...
“Semalam di Rumah Sakit (Part 4)”

[…] For the previous part,…click here. […]




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Click here for part 1

Click here for part 2

Dia berteriak dan menjatuhkan iPhonenya.

Dan sekejap ada tangan yang meraih pergelangan tangannya dengan kencang.

“Aduh, jatuh deh. Kenapa nggak minta tolong?”

Suara itu dari suster berbaju putih yang buru-buru menolong Jimmy.

“Tadi..tadi…” Apapun yang Jimmy katakan tidak dipedulikan suster itu. Dia hanya membantu Jimmy kemabli ke tempat tidur dan merapikan […]

Previous Entry

 

For the previous part,…click here.

Jimmy mengumpulkan tenaga yang ada untuk membangunkan dirinya sendiri. Dia menopang tubuhnya dengan dua tangannya. Lalu keseimbangannya datang dan dia mulai melepas sandaran tangannya. Mulai bergeserlah dia ke ujung ranjangnya. Kakinya masih menggantung belum menyentuh dinginnya lantai UGD rumah sakit. Dan begitu hal itu kejadian, langsunglah Jimmy menarik kakinya. Namun tekadnya […]

Next Entry