The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Semalam di rumah sakit

August 4th 2011 in a short story

Jimmy sedang berada di dalam taksi. Pikiranya sudah tidak ada ditempat dimana dia duduk. Semuanya sudah menguap menjadi keringat yang mengucur deras di tubuhnya yang terbalut sweater merah tebal. Mungkinkah keringat itu menetes di tas ransel yang dia pangku?

“Wah, saya salah jalan ni.”

“Muter aj deh, Pak. Yang penting cepet. Saya sudah nggak tahan.”

Jimmy benar-benar tidak bisa marah saat itu. Dia hanya ingin cepat sampai di Rumah Sakit. Dan dia berharap supir taksi di sebelahnya mengerti hal itu. Dan setelah setengah jam berikutnya, Jimmy memasuki lorong Rumah Sakit St. Carolus. Dia mengurus beberapa administrasi, menunggu barang sebentar dan sampailah dia di gilirannya.

Dokternya adalah seorang laki-laki tua dengan beberapa helai rambut hitam diantara banyak putih. Dan setelah beberapa diskusi, dia menyerahkan secarik kertas kepada Jimmy dan kertas itulah yang membawanya ke UGD.

Dingin. Benar-benar dingin. Bahkan sirup kental yang harus dia minum pun terasa dingin. Warnanya putih dan dingin. Seorang suster yang berpenampilan sama dengan sirup yang dia minum datang dan memaksanya menginap di Rumah Sakit itu. Sayangnya dia menyutujui hal itu.

Jimmy tidak tahu dimana letak persis ruangan yang ditempatinya. Yang jelas disitu ada dua kasur putih yang seharusnya dipisahkan oleh gorden yang sekarang masih berkumpul di antara dua kepala pasien disana-kepalanya dan kepala satu gadis manis yang bertampang pucat. Sakit apa dia? Dan kenapa dia sendirian? Kenapa tidak ada yang menemaninya? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan terjawab oleh Jimmy…selamanya.

Seorang suster masuk ke kamar itu. Dia menyiapkan alat infus untuk Jimmy di sebelah kanannya. Gara-gara itu pandangannya ke gadis manis di sebelahnya terhalang.

Suster tadi berkomentar seperlunya. Dan lalu dia pergi. Yang tinggal adalah..sekali lagi, dingin dan putihnya kamar Rumah Sakit itu.

23.30

Jimmy berada di antara sadar dan tidaknya. Ketika sadar, dia mengutuk habis dirinya karena lupa membawa handphonenya. Diantara tidak sadarnya, dia terlalu lemah untuk tahu bahwa dia tidak sadar.

23.45

Jimmy setengah terjaga dan mengingat dia membawa tas ranselnya. Dia sangat berharap handphonenya ada di dalamnya. Namun dia tahu sebelum dia mencoba menemukan tas itu, matanya harus terbuka lebar stabil. Usahanya keras. Bahkan dia mengeluarkan kedua tangannya dari selimut rumah sakit untuk memijit daerah matanya. Dan apa yang dia lakukan itu sedikit berhasil. Bayangan kabur di matanya lama-kelamaan membentuk barang-barang dengan jelas. Dilihatnya lampu neon terang walaupun ujung-ujungnya masih terlihat kabur. Diarahkannya kepala yang berat itu ke kiri. Dilihatnya di sebelah kanan, kaki si cewek manis yang tadi dia lihat bermuka pucat. Tapi kenapa dia tidak memakai selimutnya? Bukannya dingin sekali disini?

Jimmy berusaha menulusuri kaki gadis itu ke atas. Dia memakai baju rumah sakit yang sama dengannya. Matanya terus naik sampai ke ujung tangan kiri gadis itu yang tampak pucat sekali. Terus naiklah pandangannya ke atas. Dilhatnya perut yang naik turun seiring dengan bunyi “beep beep” dari alat yang terpasang di sebelah kanan gadis itu. Dan mata Jimmy terus naik ke atas. Tetapi…

(to be continued)


4 comments to...
“Semalam di rumah sakit”
Avatar
daff

‘Dilhatnya perut yang naik turun seiring dengan bunyi “beep beep” dari alat yang terpasang di sebelah kanan gadis itu.’

berarti peyutnya endut ya? LOL


Avatar
thef1rstmanonjupiter

Ukuran peyutnya diserahkan kepada para pemirsa. LOL LOL


[…] Click here for part 1 […]


[…] Click here for part 1 […]




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Di postingan sebelum ini gw bilang gw uda siap mental and fisik buat ngadepin apapun di Palembang nanti. Ini sedikit flashback dari yang kemaren2 and tambahan dikit pengalaman yang menurut gw–sekali lagi, menurut gw–gw ni ngomongin pendapat gw loh–bukan punya orang lain, tapi pendapat punya gw sendiri….seru.

Pas dari Jogja ke Surabaya, gw dapet pesawat macan […]

Previous Entry

Click here for part 1

 

Tapi sayang hanya sebatas itulah yang Jimmy bisa lihat karena jangkauan matanya terhenti di gorden yang menyembunyikan wajah si gadis. Paling tidak dia tahu kalau dia tidak sendiri dan dia bukanlah yang lebih parah dari si gadis. Walaupun dia tidak tahu apa yang salah dengan gadis itu sampai dia ada disana.

Kepalanya […]

Next Entry