The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

The Club–Part 2

May 24th 2011 in DARK JOURNALS--the series

Aku menganggap “kasus” kali ini sangat beresiko. Informasi yang aku dapat dari si buncit itu sangat sedikit. Tapi tetap saja aku nekad kesana. Aku memilih memakai kaos hitam, jeans hitam serta jaket semi resmi. Paling tidak pakaianku cukup fleksibel untuk macam acara yang aku sendiri belum tahu bagaimana. Aku sudah berada di taksi yang menuju ke lokasi. Tempatnya di Kemang. “Tentu saja.” Pikirku dalam hati. Aku turun dan menunggu di dekat tempat yang harus aku datangi. Sekitar sepuluh menit aku menunggu disana. Aku berusaha menuruti apa kata Wawan soal “tepat waktu”. Dan tak beberapa lama, “tepat waktu” telah tiba. Aku mendekati hotel itu dan masuk menuju meja resepsionis. Instruksi di undangan itu jelas-jelas mengatakan bahwa aku harus membawa undangan itu di tangan kiriku. Dan aku melakukannya. “Selamat malam,Pak. Selamat datang di hotel kami. Mari Pak saya antar.” Salah satu pegawai segera menyambutku dan tanpa menunggu jawabanku dia langsung mengarahkanku ke lift. “Sebuah sistim yang bagus.” Pikirku. Dan sekarang aku menjadi penasaran berapa uang yang dia terima dari orang-orang di klub ini. Tingkat tiga. Menuju meeting room. Ada seorang wanita yang menyambutku di sebuah meja kecil dan meminta undanganku. Dia memeriksanya dan bertanya: “Selamat datang untuk pertama kalinya di pertemuan kami. Nama saya Alisa dan saya akan menjadi pemandu Bapak malam mini. Mari.” Alisa yang cantik itu membuka pintu ruang meeting dan menggandengku masuk. Dia benar-benar menggandengku dan aku mulai berpikir bahwa pastilah ini klub sex atau sejenisnya. Ketika masuk di dalam, aku segera memperhatikan satu kursi yang di tengah yang membuatku penasaran terhadap siapa yang akan duduk disana. Mataku segera berkeliling dan menemukan orang-orang yang sedang beramah tamah. Banyak sekali dari orang-orang itu adalah expatriat. “What would you like to drink?” Tanya Alisa profesional. “Nothing with alcohol, I guess.” Jawabku. Untung saja aku bisa menahan untuk menambahkan satu kalimat: “I’m on duty.” Alisa mengajakku ke tempat minuman dan lalu menuangkan segelas orange juice untukku. Aku meminumnya dan sedikit basa-basi untuk mengorek apapun dari Alisa. “This is my first time. And to tell you the truth, gw nggak tahu kenapa gw ada disini.” “Relax. Rekomendasi dari temen?” Aku mengangguk. “Nice friends you have.” Alisa mengatakan hal itu dengan cara yang sangat sexy. Di suasana yang berbeda, aku yakin aku bisa dekat dengannya. “Can you…tell me a little bit about all this?” Tanyaku lagi. Alisa mengerling. Aku hampir lupa aku sedang bertugas mencari berita. Ketika Alisa membuka bibirnya sedikit, ada suara gelas yang bertemu dengan sendok salah satu perempuan yang cantik juga walaupun masih dibawah Alisa. “She will start everything.” Kata Alisa. Dia menyentuh lenganku dan lalu berjalan meninggalkanku. Aku sempat bertanya kepada diriku sendiri kenapa dia tidak menjadi model saja. “Welcome everyone. I’m Sally (Pastilah nama “Jakarta” nya). Sangat senang bertemu dengan teman-teman disini. Ada yang baru?” Apa aku harus menunjuk tangan? Aku memilih diam dulu. Tetapi aku berubah pikiran karena ternyata banyak sekali yang menunjuk tangan. Lalu wanita itu tertawa kecil dan bertanya kembali: “Siapa yang BENAR-BENAR baru?” Dan semua tangan yang diatas tadi turun. Aku baru menyadarinya namun terlambat karena Sally sudah menatap mataku. DANG!!!!

(to be continued)


5 comments to...
“The Club–Part 2”
Avatar
daff

jadi ‘barang baru’ di Jakarta emang susah susah gampang. 😛


Avatar
thef1rstmanonjupiter

Teteeeep yeeeee :).


Avatar
daff

Teuteup duooonk coooy.:-D


Avatar
renotxa

Ngeri jg bayangin bagian selanjutnya.
Kudu di dampingi orang tua.


Avatar
thef1rstmanonjupiter

bener deh kayaknya. kalo bisa satu RT sekalian ya. LOL.




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Dunia ini sangat penuh dengan orang-orang aneh. Aku salah satunya dan aku salah satu dari manusia yang tahu akan hal itu karena baru saja mendatangi sebuah klub exclusive berkat bantuan Wawan—polisi buncit yang menjadi informanku.

Pertama kali aku mendengar tentang klub ini dari Wawan, aku langsung terbayang film-film seperti SAW dan sejenisnya. Tetapi aku salah. Klub […]

Previous Entry

Jadilah aku satu-satunya dengan tangan diatas. Sally menatapku dengan matanya yang buas. Dan sepertinya Sally bukan satu-satunya hewan buas disana. Aku menjadi pusat perhatian di ruangan itu.

“Come.” Kata Sally yang memerintahku dengan jarinya yang menggoda.

Aku bukan orang yang demam panggung. Tetapi apakah aku sekarang berkeringat? Dahiku? Hidungku? Kenapa aku merasa begini? Pertanyaan bodoh itu tetap […]

Next Entry