The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

The Club–Part 1

May 22nd 2011 in DARK JOURNALS--the series

Dunia ini sangat penuh dengan orang-orang aneh. Aku salah satunya dan aku salah satu dari manusia yang tahu akan hal itu karena baru saja mendatangi sebuah klub exclusive berkat bantuan Wawan—polisi buncit yang menjadi informanku.

Pertama kali aku mendengar tentang klub ini dari Wawan, aku langsung terbayang film-film seperti SAW dan sejenisnya. Tetapi aku salah. Klub ini didirikan oleh salah satu expat yang tinggal di Indonesia. Dia mengorganisir orang-orang pintar yang “sakit”—itu kata yang Wawan gunakan untuk mendeskripsikan mereka. Si pemimpin megadakan pertemuan sebulan sekali di meeting room di hotel-hotel di Jakarta. Wawan bilang terakhir kali mereka bertemu adalah di sebiha hotel di kawasan Senayah. Dia menambahkan bahwa grup itu membayar sangat banyak untuk menyumpal mulut para pegawai hotel. Tampaknya mereka gagal karena Wawan mendapatkan info ini dari salah satu penjaga hotel…wanita. Aku tidak tahu wanita mana yang bisa sampai sebegitunya terhadap seorang polisi kroco bayaran yang sama sekali tidak enak dipandang.

“Mereka berkumpul disana Kemang—alamatnya ini” Wawan memberikanku seacarik undangan “mulai jam 11 malam. Semuanya harus membawa undangan.”

“Inget ya. Jam 12.15 pas. Gak lebih and gak kurang. Simpen jam itu baik-baik. Kalo gw sih pinginnya nggak gw balikin. Hahahaha.” Aku memilih untuk mengabaikan tawa itu dengan melihat jam Rolex original yang diberikan Wawan kepadaku. Atau lebih tepatnya dipinjamkannya. Dan entah dari mana dia mendapatkannya. Beberapa menit yang lalu matanya bersinar melihat jam itu. Selain jam itu,dia juga memberikan sebuah undangan yang mengingatkanku dengan tiket nonton di Premiere. Tebal sekali dan sangat eksklusif.

Aku teringat sekali dengan apa yang dikatakan Wawan mengenai hal yang satu ini.

“Gw punya info yang menarik abis buat lo and gw minta tambahain 100 ribu. Hahahaha.”

“Cerita dulu baru gw pertimbangkan tambahannya.” Jawabku dingin.

“Aaaah, udah deh. Yang ini gw yakin bakal bisa bkin elo nyembah-nyembah ke gw. Hahahaha.”

Aku tidak mau berpikir barang sedetikpun untuk menyembah makhluk buncit di depanku itu. Aku hanya diam dan mendiamkan dia untuk bersama dengan sifatnya yang selalu melebih-lebihkan segala hal. Lama-lama hal ini bisa jadi sangat membosankan.

“Gua nggak suka maen-maen. Waktu gua berharga buat gua dan kalo lo minta gua dateng and buang-buang waktu, gua bakal balik.” Kedinginan suaraku akhirnya bisa juga dirasakan Wawan. Aku sendiri tidak pernah memahami kemampuannya mengidentifikasi perasaan orang lain. Aku selalu begitu sementara dia tidak pernah berhenti membuatku menjadi “manusia”—itu istilahnya.

“Robot lo! Bodo deh. Jadi gini. Ada klub eksklusif di menteng. Mereka…” Wawan menceritakan apa yang sudah aku tulis tadi. Bagian menariknya adalah ketika dia membicarakan cara mereka bertemu.

“Acaranya mulai jam 12.30. Kumpulnya sendiri mulai jam 11.00. Dan tiap orang harus dateng paaaaaas waktu yang ada di undangannya. Datengnya pun ada jarak waktunya. Waktu lo jam 12.15. Tujuannya mereka gitu biar nggak ada yang curiga masuk rumah orang kok rame-rame. Padahal kan bisa aja dianggep pesta ya. Polaroid aja kail ya mereka.”

“Paranoid.” Koreksiku.

“Iya.”

“Jadi elo sampe sekarang nggak tahu mereka ngapain aja disana?”

Dia menggeleng sambil menghidupkan rokok Starmildnya.

“Kalo gitu gua kasi lo seratus ribunya setelah acara.”

“Eh jangan gitu dong. Gua mau bawa cewek weekend ini.”

“Bawa aja ke warung nasi kucing. Gua pergi.”

Wawan mengatakan beberapa hal dengan suara tinggi yang tampaknya dipedulikan semua orang di resatauran tempat kita makan-semua orang kecuali aku. Aku sudah berjalan ke arah parkiran. Aku masih mengganggap pertemuan kali ini buang-buang waktu saja. Dan sampai aku tahu klub macam apa yang aku datangi nanti, aku masih akan berpendapat yang sama.

To be continued…


5 comments to...
“The Club–Part 1”
Avatar
daff

ni si Wawan, udah tau tokohnya bete liat dia, masiiiiih aja ceria kalo ketemu. yakin nih dia suka cewek? :-)))


Avatar
thef1rstmanonjupiter

u wana try him? hihihihihihi.


Avatar
daff

silakan loh. silakan. :-)))))


Avatar
The Club–Part 2 « firstmanonjupiter

[…] “Exaggerating is an art!” ‹ The Club–Part 1 […]


Avatar
thef1rstmanonjupiter

Hihihihihihihi




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Once I met a Ginny with three wishes. I started naming them. But then we talked:
G: “What makes you think I will grant any of those?”
J: “Coz I’ve been a very good boy.”
G: “I’m not Santa Claus.”
J: “I’ve set you free.”
G: “But you are not sincere.”
J: “Because that’s they way the story goes.”
G: “Then I’ll […]

Previous Entry

Aku menganggap “kasus” kali ini sangat beresiko. Informasi yang aku dapat dari si buncit itu sangat sedikit. Tapi tetap saja aku nekad kesana. Aku memilih memakai kaos hitam, jeans hitam serta jaket semi resmi. Paling tidak pakaianku cukup fleksibel untuk macam acara yang aku sendiri belum tahu bagaimana. Aku sudah berada di taksi yang menuju […]

Next Entry