The First man on Jupiter
Exaggerating is an art!

Ironis

March 28th 2011 in DARK JOURNALS--the series

Aku sedang menuggu Wawan–informanku untuk berita-berita kejahatan dan kejanggalan di Jakarta–di depan RS. St. Carolus. Menurut SMS nya, dia akan menceritakan sebuah berita tragis tentang seorang gadis korban kekerasan yang ironis.

Untuk sementara setelah membaca SMS dari Wawan, aku sempat memutuskan untuk tidak datang. Namun seolah membaca pikiranku, belum selesai aku mengetik balasan SMS ke dia, Wawan mengirim SMS kedua yang isinya:

“Lo hrs dtg, Ini bkn kbr biasa.”

Akhirnya aku mengambil resiko membuang waktuku untuk datang di St. Carolus hari Minggu pagi jam 7. Setelah beberapa menit, aku melihat perut buncit Wawan mendahului dirinya sendiri untuk menghampiri aku.

“Hey. Rokok dulu ya.” Waktu itu aku cuma penasaran kapan dia akan meninggal karena terlalu banyak merokok.

“Gua rada gugup di dalem tadi. Jadi sori kalau hsil foto gw nggak begitu bagus. Secara mau ambil foto aja harus umpet-umpetan ama suster-susternya. Untung gua bawa lencana. Nih, lo liat dulu.”

Aku melihat sebuah foto gadis remaj17 tahunan yang rambutnya berantakan sedang terbaring di ranjang Rumah Sakit. Matanya tertutup dengan sebuah goresan lumayan panjang dari ujung mata sebelah kanan sampai ke daerah pinggiran rambutnya yang lurus. Pipi kanannya lebam merah tua. Mungkin karena warna kulitnya juga putih.

“Amanda namanya. Anaknya warga Kramat. Dia tinggal sama bapak kandungnya aja. Mamanya meninggal lima tahun yang lalu. Uda biasa digebugin kayaknya. Bapaknya tuh.”

Serentetan informasi dari Wawan itu hanya aku dengarkan tanpa memandang wajahnya. Aku menuju ke foto kedua yang ada di kamera digital Wawan. Foto itu adalah foto perut samping Amanda. Ada luka goresan lagi disana. Yang ini lebih dalam daripada yang di ujung mata tadi.

“Pisau?”

“Kaca.”

“Kaca?” Aku sempat mengernyitkan wajahku ke arah kamera Wawan.

“Aneh, I know.

“Bukan aneh. Sadis. Ini kan luka dalem banget.”

“Ternyata lo masih pinter ya soal beginian. Belum ilang jiwa analisa penulis lo.”

Aku berusaha untuk tidak memperhatikan komentar Wawan soal kemampuan menulisku. Aku benar-benar tidak mau berimajinasi lagi. Aku masih menjaga komitmenku soal itu.

“Ini ada hubungannya sama ironisnya ini cerita. Jadi ini anak uda biasa jadi lampiasan nafsu si Bapak. Soal nafsu sex, lagi diselidiki polisi. Mahal kali ya pelacur sekarang ini. Apa sejak film Pretty Woman? Hahahhaha.”

Aku tidak tertawa dan mataku pun tidak beranjak dari kamera digital Wawan. Dan dia berhenti tertawa. Efektif juga caraku.

Waan membersihkan tenggorokannya dari apapun itu. Lalu dia melanjutkan:

“Jadi si Bapak geblek itu pernah dateng mabok and marah-marah sama istri, almarhuman istrinya and si Amanda itu. Dipecahin tu jendela rumahnya. Trus ditusuk-tusuk lah itu istri and anaknya. Istrinya meninggal di tempat. Anaknya masih idup. Gua juga gak tau deh gimana ceritanya kok bisa gitu. Lo percaya mukjizat?”

“Apa yang gua percayai nggak masalah. Terus?” Tanggapku dingin.

“Ya serah lo deh. Anyway, itu anak sempat pingsan sehari penuh.”

Wawan berhenti. Rokoknya dihisap dalam-dalam sampai aku tidak akan terkejut kalau rokok itu masuk ke mulutnya dan dia meninggal seketika.

“Terus?” Aku mematikan kamera digitalnya setelah beberapa foto berubah menjadi foto-foto suster-suster yang lumayan cantik.

“Info yang gua dapet dari suster-suster disini pas mereka sempat ngobrol sama si Amanda, dia emang nggak dibawa ke Rumah Sakit waktu itu. Dia cuma tahunya dia masih idup.

Trus beberapa hari yang lalu dia dateng berdarah-darah ke Rumah Sakit ini lapor kalau dia digebukin bapaknya lagi yang dia bilang kabur dari penjara. Canggih bener itu bapak. Anyway, dirawatlah dia di Rumah Sakit. And,…” Berhenti lagi si polisi buncit itu. Rokok lagi sasarannya. Sungguh menyebalkan.

“And pas di rongten, keliatan satu pecahan kaca kecil di bilik di dalem dadanya. Panik semua si tukang rongten and dokter yang ngeliat hasil fotonya. Dioperasilah itu Amanda and baruuu aja selesai operasinya. Itu foto-foto yang gua ambil pas dia kelar operasi tuh. Gua minta bayaran lebih ya. Lebihin 100 rebu deh. Resiko gw gede nih.”

Rada muak aku mendengar apa yang dia katakan.

“Apa spesialnya info itu sampe gua harus bayar ekstra?”

“Pecahan kaca itu dianalisa uda lama banget ada di dalem tubuh Amanda. And you know what?” Wawan tampak menungguku bertanya “What?” tetapi aku hanya diam.

Si Amanda ini diliat-liat jantungnya ada kelainan bilik. Peredaran darahnya bisa nyampur kalo nggak dibikinin sekat. Dan,…???” Wawan memancingku lagi dengan pertanyaan dan karena mendengar ceritanya tentang Amanda ini aku pun terpancing.

“Kaca itu?”

Wawan mengangguk pelan sambil menatap dalam-dalam mataku. Aku tidak mempedulikan ekspresi wajah Wawan. Aku hanya mengakui dalam hati kalau dia benar. Cerita ini memang sangat ironis untukku. Kejahatan itu menyelamatkan Amanda.

“Tapi,…lo bilang dia baru selesai dioperasi? Diangkat?”

Dan Wawan mengangguk.

“Lo tadi liat foto mayat.”

 

-Je-

 


5 comments to...
“Ironis”
Avatar
Bung Iwan

jempoolllll…..
aduh, mas FMOJ, harusnya ini dibuat cerita panjang.


Avatar
thef1rstmanonjupiter

Aduh bung, keburu takut gua nyaaaa :).


Avatar
Renotxa

Huaaaaaaa……
*imut nutup leptop


Avatar
Renotxa

kok gak keluaaar komennyaaaa


Avatar
thef1rstmanonjupiter

Dianggep spam teryata komen dari lo. Are you human? Ayo cepet2 nulis nama pake huruf gaya captcha :).




required



required - won't be displayed


Your Comment:

*

Uda lama nggak ngobrolin soal film. Nih yul ngbrol2. Ada ni film yang judulnya Machete (baca: Ma-Ce-Te, Je). Ini yang main namanya…liat poster aj de ya. Sebelum film ini kayaknya si dia pernah amen di Iron Man 2 jadi musuhnya bawa pecut listrik. Bener g seh?

Anw, ini film fuuuuullll sabet2an golok. Ya ternyata Machete juga […]

Previous Entry

JE-31 found himself in such a beautiful forest. It’s the one where you can see birds flying low near you leaving you with steps of wind you have on your clapping hair. The one that makes you bow sown a little to sav your head yet arouse curiosity.

Aint he blessed with such a view among […]

Next Entry